<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://akallokal.or.id//api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Mutiaafianti15</id>
	<title>Akal Lokal - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://akallokal.or.id//api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Mutiaafianti15"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php/Special:Contributions/Mutiaafianti15"/>
	<updated>2026-05-04T10:21:39Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.39.8</generator>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Lilifuk&amp;diff=1707</id>
		<title>Lilifuk</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Lilifuk&amp;diff=1707"/>
		<updated>2025-05-27T09:58:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: /* Alat yang Digunakan */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Tradisi Lilifuk.jpg|thumb|Tradisi &#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039;. (Foto: [https://www.instagram.com/koalisikopi.timor/ Sekolah Kampung KED Koalisi KOPI Timor])]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039;: Kearifan Lokal Masyarakat Kabupaten Kupang dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut ==&lt;br /&gt;
Apa Itu Lilifuk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039; merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Kabupaten Kupang yang telah ada sejak lama dan masih dilestarikan hingga kini. Tradisi ini berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Riset Sekolah Kampung [https://www.instagram.com/koalisikopi.timor/ Komite Eksekutif Daerah (KED) Koalisi KOPI Timor]&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039; adalah cekungan atau kolam alami yang tergenang air laut saat pasang dan memerangkap ikan ketika air surut. Masyarakat setempat menutup area penangkapan ikan ini untuk sementara waktu, kemudian membukanya sekali dalam setahun atau dua kali sesuai kesepakatan bersama antara masyarakat, pemerintah, dan pemilik &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; (tuan tanah).&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Lokasi dan Kepemilikan ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039; berada di Dusun Tuanesi, Desa Kuanheun, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Wilayah ini dimiliki oleh Suku Baineo. Dengan luas wilayah &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; sekitar 4 hektar dengan lebar 2 hektar.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Zona &#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Area &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; dibagi menjadi tiga zona dengan aturan dan fungsi yang berbeda:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Zona Bebas&#039;&#039;&#039;: wilayah zona ini ditandai dengan adanya padang lamun. Di wilayah ini masyarakat boleh mengambil ikan saat pembukaan &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Zona Penyangga&#039;&#039;&#039;: wilayah zona ini ditandai dengan substrat berlumpur. Di wilayah ini masyarakat masih boleh mengambil ikan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Zona Inti&#039;&#039;&#039;: wilayah yang terdiri dari terumbu karang. Wilayah ini tidak boleh ada aktivitas penangkapan atau gangguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zona Lilifuk ini diberi penanda dengan menggunakan batu, kayu, atau pukat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;*Informasi terkait Zona lilifuk ini masih dalam tahap riset dan akan segera diperbaharui&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Alat yang Digunakan ==&lt;br /&gt;
[[File:Sorok Lingkar.jpg|thumb|&#039;&#039;Sorok Lingkar;&#039;&#039; alat yang digunakan dalam tradisi &#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039;. (Foto: [https://www.instagram.com/koalisikopi.timor/ Sekolah Kampung KED Koalisi KOPI Timor])]]&lt;br /&gt;
[[File:Sepaik.jpg|thumb|&#039;&#039;Sepaik&#039;&#039;; alat yang digunakan untuk menampung ikan dalam tradisi &#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039;. (Foto: [https://www.instagram.com/koalisikopi.timor/ Sekolah Kampung KED Koalisi KOPI Timor])]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat menggunakan alat tradisional ramah lingkungan, seperti:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Sapaikh&#039;&#039;: keranjang sebagai tempat menyimpan ikan.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Sorok lingkar&#039;&#039;: terbuat dari jaring dan kayu bulat (kayu gewang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Perkembangan ==&lt;br /&gt;
Tradisi &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; telah ada sejak lama, terakhir dilakukan dalam bentuk ritual adat pada 1990-an. Dulu, dalam ritual adat pembukaan lilifuk biasa dilakukan dengan memukul gong dan memotong hewan untuk makan bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun 2013, aturan &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; diatur melalui Peraturan Desa (Perdes) dengan sanksi bagi pelanggar. Dan sudah tidak dilakukan ritual adat lagi. Dengan alasan, dalam ritual adat saat pememukulan gong ini tidak sesuai. Karena dianggap mengganggu ikan-ikan yang sensitif terhadap bunyi. Sehingga akan membuat ikan-ikan keluar dari wilayah &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;. Selain itu, ritual adat memakan banyak biaya. Kareana harus memotong hewan untuk makan bersama.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga sekarang, pembukaan &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; diawali dengan doa bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Aturan dan Sanksi ==&lt;br /&gt;
Beberapa larangan dalam tradisi &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Menangkap ikan dengan alat yang dapat merusak ekosistem laut.&lt;br /&gt;
* Beraktivitas di zona &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; sebelum waktu pembukaan.&lt;br /&gt;
* Merusak terumbu karang atau menangkap penyu.&lt;br /&gt;
* Mencuri atau menggunakan pukat harimau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada yang melanggar aturan ini maka akan dikenai sanksi. Sanksi berupa denda uang atau hewan ternak yang kemudian dipotong dan dimakan bersama masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sistem Pengelolaan ==&lt;br /&gt;
Dulu, hasil tangkapan dibayarkan kepada pemilik &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;. Tapi sejak tahun 2013, setelah ada Perdes, sistem berubah menjadi:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Semua masyarakat yang mengikuti pembukaan lilifuk ini membeli tiket masuk seharga Rp10.000/orang.&lt;br /&gt;
* Hasil penjualan tiket ini kemudian dibagi hasil bersama pemilik &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;, desa, dan penjaga &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;. Dengan komposisi pembagian: 30% untuk pemilik &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;, 30% untuk desa, dan 40% untuk penjaga &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pembukaan Lilifuk ==&lt;br /&gt;
Pada 2 Januari 2025&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;, sekitar 300 orang hadir dalam pembukaan &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039;. Jumlah ini tergolong sedikit karena bersamaan dengan acara serupa di Desa Kuanheun dan Desa Bolok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tanda Hasil yang Baik ==&lt;br /&gt;
Masyarakat percaya bahwa jika ingin hasil tangkapan melimpah maka tidak boleh ada yang mendahului turun ke laut sebelum air benar-benar surut.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Peran Gender dan Pengolahan Ikan ==&lt;br /&gt;
Saat pembukaan &#039;&#039;lilifuk&#039;&#039; tidak ada pembedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam aktivitas &#039;&#039;lilifuk.&#039;&#039; Semua menggunakan alat yang sama, yaitu &#039;&#039;sorok lingkar&#039;&#039; dan &#039;&#039;sepaik&#039;&#039;.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan hasil tangkapan ini selain dijual dan dikonsumsi, biasanya masyarakat mengawetkannya dengan dua cara:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Dikeringkan: ikan dibersihkan, diberi garam, lalu dijemur.&lt;br /&gt;
# Diasap: ikan dibersihkan, ditusuk menggunakan lidi, lalu diasapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Lilifuk&#039;&#039; adalah satu dari banyak kearifan lokal masyarakat Indonesia yang mendukung kelestarian ekosistem laut. Sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Dengan aturan yang jelas dan partisipasi aktif warga, tradisi ini terus bertahan di tengah modernisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
[https://www.youtube.com/live/dmW6boDDlFY?si=XPpW8rgTqqPZAG1T TM Share Volume 464], spesial kolaborasi bersama [https://koalisikopi.com/ Koalisi KOPI]: Ketahanan Pangan Pesisir berbasis Kearifan Lokal&lt;br /&gt;
[[Category:Sekolah Kampung]]&lt;br /&gt;
[[Category:Koalisi KOPI]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Laut]]&lt;br /&gt;
[[Category:Timor]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Tenggara Timur]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1486</id>
		<title>Naflomo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1486"/>
		<updated>2025-03-27T04:24:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg|thumb|337x337px|&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039;/Kolam lumpur di Desa Tokbesi (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; merupakan sebuah kolam berisi lumpur hitam di desa Tokbesi, Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Arti sebenarnya, n&#039;&#039;aflomo&#039;&#039; adalah Kelapa Tinggi, karena kolam lumpur ini berada di bawah mata air yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa tinggi.  Tetapi di antara &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; itu tumbuh pohon lain, salah satunya pohon pinang. Pohon pinang ditanam masyarakat desa untuk meneduhi sumber mata air dan kolam lumpur agar tidak kering saat musim kemarau tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; menjadi sumber pewarna bagi penenun di desa Tokbesi dan juga desa lainnya. Lumpur yang terdapat di &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; tidak ada di sembarang tempat. Ketika menyentuh lumpur, akan terasa lumpur yang berwarna hitam pekat tersebut teksturnya lembut. &lt;br /&gt;
[[File:Lumpur-Tenun-5024.jpg|thumb|337x337px|Lumpur di &#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
Kualitas &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; ini sebagai pewarna alam [[tenun]], terlihat ketika sedang membersihkan bagian tubuh yang terkena lumpur sangat sulit untuk dibersihkan. Harus mencuci tangan berkali-kali sampai warna hitam dari lumpur hilang&amp;lt;ref&amp;gt;Fitria, Linda, dkk. 2018. [https://drive.google.com/file/d/1SUVwtVQQqDmCReKGvxHQ0T1IaOkj2Y3G/view?usp=drive_link Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat]. Jakarta: Terasmitra &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Fitria, Linda, dkk. 2018. Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat. Jakarta: Terasmitra &lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Tenggara Timur]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pewarna Alam]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Kebudayaan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1485</id>
		<title>Naflomo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1485"/>
		<updated>2025-03-27T04:23:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg|thumb|337x337px|&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039;/Kolam lumpur di Desa Tokbesi (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; merupakan sebuah kolam berisi lumpur hitam di desa Tokbesi, Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Arti sebenarnya, n&#039;&#039;aflomo&#039;&#039; adalah Kelapa Tinggi, karena kolam lumpur ini berada di bawah mata air yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa tinggi.  Tetapi di antara &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; itu tumbuh pohon lain, salah satunya pohon pinang. Pohon pinang ditanam masyarakat desa untuk meneduhi sumber mata air dan kolam lumpur agar tidak kering saat musim kemarau tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; menjadi sumber pewarna bagi penenun di desa Tokbesi dan juga desa lainnya. Lumpur yang terdapat di &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; tidak ada di sembarang tempat. Ketika menyentuh lumpur, akan terasa lumpur yang berwarna hitam pekat tersebut teksturnya lembut. &lt;br /&gt;
[[File:Lumpur-Tenun-5024.jpg|thumb|337x337px|Lumpur di &#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
Kualitas &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; ini sebagai pewarna alam [[tenun]], terlihat ketika sedang membersihkan bagian tubuh yang terkena lumpur sangat sulit untuk dibersihkan. Harus mencuci tangan berkali-kali sampai warna hitam dari lumpur hilang&amp;lt;ref&amp;gt;Fitria, Linda, dkk. 2018. [https://drive.google.com/file/d/1SUVwtVQQqDmCReKGvxHQ0T1IaOkj2Y3G/view?usp=drive_link Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat]. Jakarta: Terasmitra &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Fitria, Linda, dkk. 2018. Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat. Jakarta: Terasmitra &lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Tenggara Timur]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pewarna Alam]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1478</id>
		<title>Naflomo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1478"/>
		<updated>2025-03-27T04:15:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg|thumb|337x337px|&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039;/Kolam lumpur di Desa Tokbesi (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; merupakan sebuah kolam berisi lumpur hitam di desa Tokbesi, Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Arti sebenarnya, n&#039;&#039;aflomo&#039;&#039; adalah Kelapa Tinggi, karena kolam lumpur ini berada di bawah mata air yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa tinggi.  Tetapi di antara &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; itu tumbuh pohon lain, salah satunya pohon pinang. Pohon pinang ditanam masyarakat desa untuk meneduhi sumber mata air dan kolam lumpur agar tidak kering saat musim kemarau tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; menjadi sumber pewarna bagi penenun di desa Tokbesi dan juga desa lainnya. Lumpur yang terdapat di &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; tidak ada di sembarang tempat. Ketika menyentuh lumpur, akan terasa lumpur yang berwarna hitam pekat tersebut teksturnya lembut. &lt;br /&gt;
[[File:Lumpur-Tenun-5024.jpg|thumb|337x337px|Lumpur di &#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
Kualitas &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; ini sebagai pewarna alam [[tenun]], terlihat ketika sedang membersihkan bagian tubuh yang terkena lumpur sangat sulit untuk dibersihkan. Harus mencuci tangan berkali-kali sampai warna hitam dari lumpur hilang&amp;lt;ref&amp;gt;Fitria, Linda, dkk. 2018. [https://drive.google.com/file/d/1SUVwtVQQqDmCReKGvxHQ0T1IaOkj2Y3G/view?usp=drive_link Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat]. Jakarta: Terasmitra &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sumber ====&lt;br /&gt;
Fitria, Linda, dkk. 2018. Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat. Jakarta: Terasmitra &lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Tenggara Timur]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pewarna Alam]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1473</id>
		<title>Naflomo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Naflomo&amp;diff=1473"/>
		<updated>2025-03-27T04:11:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;Naflomo&amp;#039;&amp;#039;/Kolam lumpur di Desa Tokbesi (Foto: Rosa Panggabean) &amp;#039;&amp;#039;Naflomo&amp;#039;&amp;#039; merupakan sebuah kolam berisi lumpur hitam di desa Tokbesi, Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Arti sebenarnya, n&amp;#039;&amp;#039;aflomo&amp;#039;&amp;#039; adalah Kelapa Tinggi, karena kolam lumpur ini berada di bawah mata air yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa tinggi.  Tetapi di antara &amp;#039;&amp;#039;naflomo&amp;#039;&amp;#039; itu tumbuh pohon lain, sal...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg|thumb|337x337px|&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039;/Kolam lumpur di Desa Tokbesi (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; merupakan sebuah kolam berisi lumpur hitam di desa Tokbesi, Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Arti sebenarnya, n&#039;&#039;aflomo&#039;&#039; adalah Kelapa Tinggi, karena kolam lumpur ini berada di bawah mata air yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa tinggi.  Tetapi di antara &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; itu tumbuh pohon lain, salah satunya pohon pinang. Pohon pinang ditanam masyarakat desa untuk meneduhi sumber mata air dan kolam lumpur agar tidak kering saat musim kemarau tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; menjadi sumber pewarna bagi penenun di desa Tokbesi dan juga desa lainnya. Lumpur yang terdapat di &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; tidak ada di sembarang tempat. Ketika menyentuh lumpur, akan terasa lumpur yang berwarna hitam pekat tersebut teksturnya lembut. &lt;br /&gt;
[[File:Lumpur-Tenun-5024.jpg|thumb|337x337px|Lumpur di &#039;&#039;Naflomo&#039;&#039; (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
Kualitas &#039;&#039;naflomo&#039;&#039; ini sebagai pewarna kain terlihat ketika sedang membersihkan bagian tubuh yang terkena lumpur sangat sulit untuk dibersihkan. Harus mencuci tangan berkali-kali sampai warna hitam dari lumpur hilang&amp;lt;ref&amp;gt;Fitria, Linda, dkk. 2018. [https://drive.google.com/file/d/1SUVwtVQQqDmCReKGvxHQ0T1IaOkj2Y3G/view?usp=drive_link Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat]. Jakarta: Terasmitra &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sumber ====&lt;br /&gt;
Fitria, Linda, dkk. 2018. Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat. Jakarta: Terasmitra &lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Tenggara Timur]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pewarna Alam]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Lumpur-Tenun-5024.jpg&amp;diff=1468</id>
		<title>File:Lumpur-Tenun-5024.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Lumpur-Tenun-5024.jpg&amp;diff=1468"/>
		<updated>2025-03-27T04:10:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Lumpur di Naflomo&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg&amp;diff=1464</id>
		<title>File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Lokasi-Lumpur-Untuk-Bahan-Tenun-5244.jpg&amp;diff=1464"/>
		<updated>2025-03-27T04:03:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kolam lumpur pewarna alam&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Biboki&amp;diff=1403</id>
		<title>Biboki</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Biboki&amp;diff=1403"/>
		<updated>2025-02-14T09:32:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: /* Biboki sebagai Suku */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;== Biboki sebagai Suku ==&lt;br /&gt;
Biboki merujuk kepada nama sub etnis dari Suku Dawan, etnis mayoritas yang bermukim di Desa Tamkesi, Desa TautPah, Kecamatan Biboki Selatan, [https://ttukab.go.id/ Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)], [https://nttprov.go.id/ Nusa Tenggara Timur (NTT)]. Berada di atas pegunungan, bisa ditempuh sekitar 2-3 jam dari pusat kota Kefamenanu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu, Biboki adalah sebuah kerajaan, tepatnya kekaisaran. Keberadaanya sebelum kedatangan bangsa Portugis di abad XV dan Belanda di abad XVII di Pulau Timor. Saat itu, kekaisaran Biboki ‘berafiliasi’ dengan dua kekuasaan besar, yaitu ‘&#039;&#039;Liurai&#039;&#039;’ di timur dan ‘&#039;&#039;Sonbai&#039;&#039;’ di barat. Hal ini dibenarkan oleh adanya dua tugu besar di pusat kekaisaran Biboki, ‘&#039;&#039;Tamkesi’&#039;&#039;. ‘&#039;&#039;Tamkesi&#039;&#039;’ artinya ‘penuh dan sempurna’.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra (hal.16)&amp;lt;/ref&amp;gt; Dari Kefamenanu, perjalanan menuju Desa Tamkesi membutuhkan waktu kurang dari tiga jam, dengan melewati jalanan berbukit dan berbatu. Di tempat pemberhentian kendaraan terakhir, ada sebuah plang bertuliskan &#039;&#039;Eno Fatnai Naimnune&#039;&#039;, kata-kata dalam Bahasa Dawan yang artinya &amp;quot;Pintu Tuan Rumah Perempuan&amp;quot;. Dalam pengertian yang lebih luas, kalimat itu adalah ucapan selamat memasuki daerah sonaf atau istana Kerajaan Biboki.&amp;lt;ref&amp;gt;Fitria, Linda, dkk. 2018. [https://drive.google.com/file/d/1SUVwtVQQqDmCReKGvxHQ0T1IaOkj2Y3G/view?usp=sharing Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat]. Jakarta: Terasmitra &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata ‘Biboki’ dibentuk dari dua kata, yaitu preposisi ‘Bi’ yang berarti ‘Di’, dan kata benda ‘Boki’ artinya ‘Penyangga’, ‘Penyeimbang’. Kerajaan Biboki adalah Kerajaan ‘&#039;&#039;Bufferzone&#039;&#039;’, yaitu Kerajaan Penyangga, Penyeimbang&amp;lt;ref&amp;gt;Schulte Nordholt (profesor Sejarah Indonesia KITLV di Universitas Leiden)&amp;lt;/ref&amp;gt;. Hal ini didasarkan pada letak geografis tanah Biboki bersama dengan tanah Belu terletak pada ‘pinggang’ dari Pulau Timor, yaitu di tengah-tengah Pulau Timor. Selain itu, Biboki berada persis pada pusaran dua wilayah teritorial-kultural yang besar, yaitu Belu-Tetun dan TTU hingga Kupang, yang Dawan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Biboki saat ini ==&lt;br /&gt;
Saat ini, Biboki merupakan wilayah kecamatan di [https://ttukab.go.id/ Kabupaten TTU], [https://nttprov.go.id/ NTT]. Di masa pemerintahan Orde Baru, masyarakat Biboki terhimpun dalam dua kecamatan, yaitu Kecamatan Biboki Utara dengan ibukotanya Manumean, yang kemudian dipindahkan ke Lurasik, dan Kecamatan Biboki Selatan dengan ibukotanya Manufui. Sebelumnya, ketika Kabupaten TTU masih dalam pola Swapraja, seluruh teritorial Kerajaan Biboki merupakan satu Swapraja, yaitu Swapraja Biboki dengan ibukotanya Manufui.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, dua kecamatan yang ada mengalami pemekaran menjadi enam kecamatan. Kecamatan Biboki Utara dimekarkan menjadi tiga, yaitu Biboki Utara dengan ibukotanya Lurasik, Biboki `&#039;&#039;Feot-Leu&#039;&#039;’ (Saudari Keramat) beribukota di Manumean, dan Biboki `&#039;&#039;An-Leu&#039;&#039;’ (Putra Keramat) dengan ibukotanya Ponu. Biboki Selatan pun dimekarkan menjadi tiga yaitu Kecamatan Biboki Selatan dengan ibukotanya Manufui, Kecamatan `&#039;&#039;Moen-Leu&#039;&#039;’ (Saudara Keramat) dengan ibukotanya Mena-Kaubele, dan Biboki `&#039;&#039;Tanpah&#039;&#039;’ (Penerobos Bumi) dengan ibukotanya di Oenopu.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Etnis Biboki ==&lt;br /&gt;
Secara etnis, masyarakat Biboki terkomposisi dari manusia yang berasal dari arah Matahari Terbit (Timur), yaitu ‘&#039;&#039;Mansa Saena&#039;&#039;’ (bahasa Dawan) atau ‘Loro Sae’ (bahasa Tetun), dan dari arah Matahari Terbenam (Barat), yaitu ‘&#039;&#039;Mansa Moufna&#039;&#039;’ (bahasa Dawan) atau ‘&#039;&#039;Loro Monu&#039;&#039;’ (bahasa Tetun).&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=drive_link Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fitria, Linda, dkk. 2018. [https://drive.google.com/file/d/1SUVwtVQQqDmCReKGvxHQ0T1IaOkj2Y3G/view?usp=sharing Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat]. Jakarta: Terasmitra&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Biboki]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Hoteas&amp;diff=1402</id>
		<title>Hoteas</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Hoteas&amp;diff=1402"/>
		<updated>2025-02-14T09:17:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;Hoteas&amp;#039;&amp;#039; adalah tempat sakral yang digunakan oleh masyarakat Biboki untuk berdoa kepada alam dan leluhur mereka agar diberikan kelancaran dalam menyelesaikan masalah kehidupan. &amp;#039;&amp;#039;Hoteas&amp;#039;&amp;#039; berbentuk persegi tanpa atap, berupa pagar yang mengelilingi patung yang menjadi simbol tetua atau leluhur.  == Sumber == Fitria, Linda, dkk. 2018. Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat. Jakarta: Terasmitra  Category:Biboki Category:Kearifan Lokal C...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;Hoteas&#039;&#039; adalah tempat sakral yang digunakan oleh masyarakat [[Biboki]] untuk berdoa kepada alam dan leluhur mereka agar diberikan kelancaran dalam menyelesaikan masalah kehidupan. &#039;&#039;Hoteas&#039;&#039; berbentuk persegi tanpa atap, berupa pagar yang mengelilingi patung yang menjadi simbol tetua atau leluhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber ==&lt;br /&gt;
Fitria, Linda, dkk. 2018. Dari Sergai ke Kefa: Kumpulan Reportase Geliat Hidup Rakyat. Jakarta: Terasmitra &lt;br /&gt;
[[Category:Biboki]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Budaya]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Beras_benang&amp;diff=1276</id>
		<title>Beras benang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Beras_benang&amp;diff=1276"/>
		<updated>2025-02-03T10:14:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Beras Benang (foto: Nelda Hannia) Merupakan perlengkapan ritual yang masih dilaksanakan oleh masyarakat adat Bayan, Nusa Tenggara Barat. Beras benang terdiri dari beras, &amp;#039;&amp;#039;lekoq buaq&amp;#039;&amp;#039; (sirih pinang), benang, uang bolong, tembakau, uang kertas, dan penutup kain tenun. Beras benang harus ada saat acara adat di Bayan, untuk meminta sarat pengobatan, seserahan menikah, diberikan kepada pejabat adat saat adanya ritual, dan lainnya.   == Sumb...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Nelda Hannia 7.jpg|thumb|Beras Benang (foto: Nelda Hannia)]]&lt;br /&gt;
Merupakan perlengkapan ritual yang masih dilaksanakan oleh masyarakat adat Bayan, Nusa Tenggara Barat. Beras benang terdiri dari beras, &#039;&#039;lekoq buaq&#039;&#039; (sirih pinang), benang, uang bolong, tembakau, uang kertas, dan penutup kain tenun. Beras benang harus ada saat acara adat di Bayan, untuk meminta sarat pengobatan, seserahan menikah, diberikan kepada pejabat adat saat adanya ritual, dan lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber ==&lt;br /&gt;
Nelda Hannia/Workshop Tenun untuk Kehidupan 2_NTB&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Bayan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Nelda_Hannia_7.jpg&amp;diff=1275</id>
		<title>File:Nelda Hannia 7.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Nelda_Hannia_7.jpg&amp;diff=1275"/>
		<updated>2025-02-03T10:12:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Beras Benang&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Sagu&amp;diff=1215</id>
		<title>Sagu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Sagu&amp;diff=1215"/>
		<updated>2025-01-23T09:41:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Screenshot 2025-01-07 131750.png|thumb|Proses menebang pohon Sagu. (Sumber Foto: Buku Jejak Pangan Lokal Nusantara / Edy Susanto)]] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dua belas desa di Pulau Kadelupa-[https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi], tiga di antaranya ditumbuhi oleh pohon &#039;&#039;&#039;sagu&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;(Metroxylon sagu)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, sejenis tanaman palma. Yaitu, Horuo, Sombano, dan Balasuna. Maka, tak heran bila dikatakan bahwa sagu adalah salah satu bentuk kedaulatan pangan di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi]. Setidaknya, dahulu demikian adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daya adaptasi pohon sagu tinggi. Ia dapat tumbuh di dataran rendah hingga di ketinggian 700 mdpl. Baik di rawa air tawar, rawa gambut, daerah sepanjang aliran sungai, atau di sekitar sumber air. Bahkan di lahan kritis di mana tanaman perkebunan dan tanaman pangan lain enggan hidup. Yang penting, tanahnya kaya bahan organik dengan kadar sedikit asam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pohon sagu merupakan tumbuhan yang tak perlu dipelihara khusus, tapi rumitnya memanen pati sagu, membuat harga tepung sagu menjadi lebih mahal dibandingkan beras. Sebagai tanaman konsumsi, sagu tumbuh di hutan, bukan di kebun. Untuk dapat dipanen tepungnya, harus ditunggu sampai sebatang pohon sagu berumur setidaknya sekitar 8-12 tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Memanen Sagu ==&lt;br /&gt;
Memanen sagu dalam prosesnya membutuhkan air yang banyak. Karena itu, harus dilakukan saat musim hujan. Secara tradisional memanen sagu tak memerlukan butuh banyak alat. Sebagian malah bisa dibuat di tempat, termasuk pemarut dan penumbuk. Meski sekarang kebanyakan sudah pakai mesin, bahkan ada yang menggunakan &#039;&#039;chainsaw&#039;&#039; daripada kapak. &lt;br /&gt;
== Makanan dari Sagu ==&lt;br /&gt;
Tepung sagu bisa dibikin menjadi bubur sagu dan berbagai makanan olahan lainnya. Antara lain yang dikenal adalah &#039;&#039;sinole&#039;&#039;. Bentuknya mirip seperti tiwul di Jawa atau nasi kering. Dibuat dengan menyangrai campuran tepung sagu dan parutan kelapa, yang diberi air dan garam. &#039;&#039;Sinole&#039;&#039; dimakan bersama taburan gula aren. Atau, sebagai teman ikan bakar, makanan spesial di daerah timur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sagu sudah tak banyak diminati lagi oleh masyarakat [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi]. Orang-orang di sana kini umumnya lebih memilih beras, singkong, atau jagung sebagai makanan pokoknya.&lt;br /&gt;
[[File:Screenshot 2025-01-07 131801.png|thumb|Proses memanen Sagu. (Sumber Foto: Buku Jejak Pangan Lokal Nusantara / Edy Susanto)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Damayanti, Ery dan Masjhur Nina. 2022. [https://drive.google.com/file/d/1hOvBAx4QHgaDAnCpzoCjuocLY2KVJdgG/view?usp=drive_link Jejak Pangan Lokal Nusantara]. Jakarta:Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan LiterasiVisual15 (hal. 122)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak (hal. 234)&lt;br /&gt;
[[Category:Pangan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Kasoami&amp;diff=1212</id>
		<title>Kasoami</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Kasoami&amp;diff=1212"/>
		<updated>2025-01-23T08:15:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;Kasoami&amp;#039;&amp;#039;, disebut juga &amp;#039;&amp;#039;kasuami&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;soami&amp;#039;&amp;#039;, adalah olahan singkong parut yang dikukus dalam bentuk kerucut. Menyerupai tumpeng kecil. Dikenal sebagai makanan nenek moyang suku-suku di Wakatobi dan Buton. Dalam upacara-upacara adat, kedudukan &amp;#039;&amp;#039;kasoami&amp;#039;&amp;#039; lebih tinggi daripada makanan berbasis nasi. Ataupun, yang berasal dari jagung seperti &amp;#039;&amp;#039;kambewe&amp;#039;&amp;#039;, &amp;#039;&amp;#039;kapusu&amp;#039;&amp;#039; &amp;#039;&amp;#039;nosu&amp;#039;&amp;#039;, dan &amp;#039;&amp;#039;kambuse&amp;#039;&amp;#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.googl...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;Kasoami&#039;&#039;, disebut juga &#039;&#039;kasuami&#039;&#039; atau &#039;&#039;soami&#039;&#039;, adalah olahan singkong parut yang dikukus dalam bentuk kerucut. Menyerupai tumpeng kecil. Dikenal sebagai makanan nenek moyang suku-suku di Wakatobi dan Buton. Dalam upacara-upacara adat, kedudukan &#039;&#039;kasoami&#039;&#039; lebih tinggi daripada makanan berbasis nasi. Ataupun, yang berasal dari jagung seperti &#039;&#039;kambewe&#039;&#039;, &#039;&#039;kapusu&#039;&#039; &#039;&#039;nosu&#039;&#039;, dan &#039;&#039;kambuse&#039;&#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber ==&lt;br /&gt;
Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&lt;br /&gt;
[[Category:Pangan lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1211</id>
		<title>Tenun Wakatobi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1211"/>
		<updated>2025-01-23T07:54:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Tenun Wakatobi.jpg|thumb|Penenun Wakatobi. (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)|354x354px]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] bukan sekedar corak yang membuat manis kain [[tenun]]. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jenis Kain Tenun Wakatobi ==&lt;br /&gt;
Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi, Sulawesi Tenggara], terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Laga&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif garis-garis untuk perempuan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hal. 39)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|&#039;&#039;Kain Ragi.&#039;&#039; (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] juga bisa merupakan simbol kelas. Motif [[tenun]] yang digunakan oleh orang biasa berbeda dengan motif [[tenun]] yang dipakai oleh mereka yang berasal dari kalangan kerajaan atau bangsawan. Sehingga motif yang ada pada produk [[tenun]] [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] tidak bisa sembarangan dikenakan khalayak umum.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tahapan Menenun&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
Tenun Pajam asli membutuhkan tiga tahapan, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Purunga&#039;&#039;, mengikat benang sesuai pola tenun dan ragam hias yang akan dibuat. Lalu, menggulungnya menjadi &#039;&#039;guara&#039;&#039; dan &#039;&#039;puru&#039;&#039; untuk dicelup dengan pewarna. &lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Oluri&#039;&#039;, menggulung benang puru dengan papan.&lt;br /&gt;
# Tahap terakhir, menenun &#039;&#039;puru&#039;&#039; yang sudah disusun, dengan &#039;&#039;guara&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses menenun hingga menjadi selembar kain atau sarung memakan waktu kurang lebih satu minggu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. Siasah. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Umklapa&amp;diff=1210</id>
		<title>Umklapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Umklapa&amp;diff=1210"/>
		<updated>2025-01-23T07:22:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;Umklapa&#039;&#039; atau rumah kelapa (dalam bahasa lokal Semau) merupakan sebuah gubuk sederhana yang sering berada di kebun atau lahan pertanian masyarakat di [[Pulau Semau]]. Biasanya &#039;&#039;Umklapa&#039;&#039; menjadi tempat para petani untuk beristirahat bahkan menginap ketika musim panen. Selain itu, umklapa sering dijadikan tempat untuk menyimpan bakul-bakul padi. Biasanya, mama mama petani yang memiliki waktu luang juga sering menganyam daun lontar menjadi &#039;&#039;[[Nyiru]]&#039;&#039; dan bakul-bakul berbagai ukuran.&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber ==&lt;br /&gt;
Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pulau Semau]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Umklapa&amp;diff=1209</id>
		<title>Umklapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Umklapa&amp;diff=1209"/>
		<updated>2025-01-23T07:17:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;Umklapa&#039;&#039; atau rumah kelapa (dalam bahasa lokal Semau) merupakan sebuah gubuk sederhana yang sering berada di kebun atau lahan pertanian masyarakat di [[Pulau Semau]]. Biasanya &#039;&#039;Umklapa&#039;&#039; menjadi tempat para petani untuk beristirahat bahkan menginap ketika musim panen. Selain itu, umklapa sering dijadikan tempat untuk menyimpan bakul-bakul padi. Biasanya, mama mama petani yang memiliki waktu luang juga sering menganyam daun lontar menjadi &#039;&#039;[[Nyiru]]&#039;&#039; dan bakul-bakul berbagai ukuran.&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Sumber ===&lt;br /&gt;
Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pulau Semau]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Umklapa&amp;diff=1208</id>
		<title>Umklapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Umklapa&amp;diff=1208"/>
		<updated>2025-01-23T07:15:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;Umklapa&amp;#039;&amp;#039; atau rumah kelapa (dalam bahasa lokal Semau) merupakan sebuah gubuk sederhana yang sering berada di kebun atau lahan pertanian masyarakat di Pulau Semau. Biasanya &amp;#039;&amp;#039;Umklapa&amp;#039;&amp;#039; menjadi tempat para petani untuk beristirahat bahkan menginap ketika musim panen. Selain itu, umklapa sering dijadikan tempat untuk menyimpan bakul-bakul padi. Biasanya, mama mama petani yang memiliki waktu luang juga sering menganyam daun lontar menjadi &amp;#039;&amp;#039;Nyiru&amp;#039;&amp;#039; dan bakul-bakul...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;Umklapa&#039;&#039; atau rumah kelapa (dalam bahasa lokal Semau) merupakan sebuah gubuk sederhana yang sering berada di kebun atau lahan pertanian masyarakat di [[Pulau Semau]]. Biasanya &#039;&#039;Umklapa&#039;&#039; menjadi tempat para petani untuk beristirahat bahkan menginap ketika musim panen. Selain itu, umklapa sering dijadikan tempat untuk menyimpan bakul-bakul padi. Biasanya, mama mama petani yang memiliki waktu luang juga sering menganyam daun lontar menjadi &#039;&#039;[[Nyiru]]&#039;&#039; dan bakul-bakul berbagai ukuran.&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pulau Semau]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1165</id>
		<title>Tenun Wakatobi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1165"/>
		<updated>2025-01-09T03:51:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Tenun Wakatobi.jpg|thumb|Penenun Wakatobi (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)|354x354px]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] bukan sekedar corak yang membuat manis kain [[tenun]]. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jenis Kain Tenun Wakatobi ==&lt;br /&gt;
Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi, Sulawesi Tenggara], terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Laga&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif garis-garis untuk perempuan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hal. 39)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039; (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] juga bisa merupakan simbol kelas. Motif [[tenun]] yang digunakan oleh orang biasa berbeda dengan motif [[tenun]] yang dipakai oleh mereka yang berasal dari kalangan kerajaan atau bangsawan. Sehingga motif yang ada pada produk [[tenun]] [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] tidak bisa sembarangan dikenakan khalayak umum.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia.&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1155</id>
		<title>Tenun Wakatobi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1155"/>
		<updated>2025-01-08T10:38:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Tenun Wakatobi.jpg|thumb|Penenun Wakatobi (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)|354x354px]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] bukan sekedar corak yang membuat manis kain [[tenun]]. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jenis Kain Tenun Wakatobi ==&lt;br /&gt;
Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi, Sulawesi Tenggara], terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Laga&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif garis-garis untuk perempuan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hal. 39)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039; (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI pelangi 2.jpg|thumb|267x267px|&#039;&#039;Kain Laga&#039;&#039; (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] juga bisa merupakan simbol kelas. Motif [[tenun]] yang digunakan oleh orang biasa berbeda dengan motif [[tenun]] yang dipakai oleh mereka yang berasal dari kalangan kerajaan atau bangsawan. Sehingga motif yang ada pada produk [[tenun]] [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] tidak bisa sembarangan dikenalan khalayak umum.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia.&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1154</id>
		<title>Tenun Wakatobi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1154"/>
		<updated>2025-01-08T10:38:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Tenun Wakatobi.jpg|thumb|Penenun Wakatobi (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] bukan sekedar corak yang membuat manis kain [[tenun]]. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jenis Kain Tenun Wakatobi ==&lt;br /&gt;
Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi, Sulawesi Tenggara], terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Kain Laga&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dengan motif garis-garis untuk perempuan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hal. 39)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|&#039;&#039;Kain Ragi&#039;&#039; (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI pelangi 2.jpg|thumb|267x267px|&#039;&#039;Kain Laga&#039;&#039; (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif [[tenun]] di [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] juga bisa merupakan simbol kelas. Motif [[tenun]] yang digunakan oleh orang biasa berbeda dengan motif [[tenun]] yang dipakai oleh mereka yang berasal dari kalangan kerajaan atau bangsawan. Sehingga motif yang ada pada produk [[tenun]] [https://sultra.bpk.go.id/wilayah-pemeriksaan-kabupaten-wakatobi/ Wakatobi] tidak bisa sembarangan dikenalan khalayak umum.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia.&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Tenun_Wakatobi.jpg&amp;diff=1153</id>
		<title>File:Tenun Wakatobi.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Tenun_Wakatobi.jpg&amp;diff=1153"/>
		<updated>2025-01-08T10:37:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Tenun Wakatobi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Setagen&amp;diff=1152</id>
		<title>Setagen</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Setagen&amp;diff=1152"/>
		<updated>2025-01-08T10:28:27Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Setagen Pelangi (Foto: &amp;#039;&amp;#039;Weaving for life&amp;#039;&amp;#039;/Dreamdelion) Setagen dikenal kebanyakan orang sebagai pengikat pinggang. Kain ini lebarnya sekitar 15 cm dan panjangnya sekitar 5-10 meter. Fungsinya sebagai pengunci kain panjang agar tidak jatuh ketika digunakan oleh perempuan sebagai pasangan kebaya atau laki-laki yang memakai beskap. Selain sebagai pengikat, fungsi setagen juga untuk membentuk postur tubuh. Bagi perempuan yang baru melahirkan, seta...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:DDR07K.jpg|thumb|Setagen Pelangi (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;/Dreamdelion)]]&lt;br /&gt;
Setagen dikenal kebanyakan orang sebagai pengikat pinggang. Kain ini lebarnya sekitar 15 cm dan panjangnya sekitar 5-10 meter. Fungsinya sebagai pengunci kain panjang agar tidak jatuh ketika digunakan oleh perempuan sebagai pasangan kebaya atau laki-laki yang memakai beskap. Selain sebagai pengikat, fungsi setagen juga untuk membentuk postur tubuh. Bagi perempuan yang baru melahirkan, setagen digunakan untuk membabat perut agar perut kembali seperti sedia kala.&amp;lt;ref&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hlm 52)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beradaptasi dengan perubahan zaman, pengembangan produk tenun setagen mulanya dari pengembangan warna. Kain setagen selama ini dikenal dengan satu warna saja, yaitu warna hitam, warna biru tua, atau warna putih. Dengan dukungan dana dari GEF SGP Indonesia, Dreamdelion bersama Lawe Indonesia mengembangkan motif warna-warni untuk setagen. Setagen ini kemudian hari diberi nama setagen pelangi&amp;lt;ref&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hlm 53)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:DDR07K.jpg&amp;diff=1151</id>
		<title>File:DDR07K.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:DDR07K.jpg&amp;diff=1151"/>
		<updated>2025-01-08T10:26:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Setagen Pelangi, Dreamdelion&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1125</id>
		<title>Tenun Wakatobi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1125"/>
		<updated>2025-01-08T04:54:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Motif tenun di Wakatobi bukan sekedar corak yang membuat manis kain tenun. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu Kain Ragi dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan Kain Laga dengan motif garis-garis untuk perempuan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hlm. 39)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|Kain Ragi (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI pelangi 2.jpg|thumb|267x267px|Kain Laga (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif tenun di Wakatobi juga bisa merupakan simbol kelas. Motif tenun yang digunakan oleh orang biasa berbeda dengan motif tenun yang dipakai oleh mereka yang berasal dari kalangan kerajaan atau bangsawan. Sehingga motif yang ada pada produk tenun Wakatobi tidak bisa sembarangan dikenalan khalayak umum.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Wakatobi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1123</id>
		<title>Tenun Wakatobi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Wakatobi&amp;diff=1123"/>
		<updated>2025-01-08T04:52:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Motif tenun di Wakatobi bukan sekedar corak yang membuat manis kain tenun. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu Kain Ragi dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan Kain Laga dengan motif garis-garis untuk perempuan. File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|Kain Ragi (Foto: &amp;#039;&amp;#039;...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Motif tenun di Wakatobi bukan sekedar corak yang membuat manis kain tenun. Namun biasanya ada makna dan batasan-batasan di balik motif-motif tenun. Di salah satu daerah, tepatnya di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terdapat dua penggolongan besar kain tenun yang dihasilkan, yaitu Kain Ragi dengan motif kotak-kotak untuk laki-laki dan Kain Laga dengan motif garis-garis untuk perempuan.&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI 2.jpg|thumb|266x266px|Kain Ragi (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
[[File:TENUN WAKATOBI pelangi 2.jpg|thumb|267x267px|Kain Laga (Foto: &#039;&#039;Weaving for life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Motif tenun di Wakatobi juga bisa merupakan simbol kelas. Motif tenun yang digunakan oleh orang biasa berbeda dengan motif tenun yang dipakai oleh mereka yang berasal dari kalangan kerajaan atau bangsawan. Sehingga motif yang ada pada produk tenun Wakatobi tidak bisa sembarangan dikenalan khalayak umum&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:TENUN_WAKATOBI_pelangi_2.jpg&amp;diff=1122</id>
		<title>File:TENUN WAKATOBI pelangi 2.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:TENUN_WAKATOBI_pelangi_2.jpg&amp;diff=1122"/>
		<updated>2025-01-08T04:52:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kain Laga&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:TENUN_WAKATOBI_2.jpg&amp;diff=1121</id>
		<title>File:TENUN WAKATOBI 2.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:TENUN_WAKATOBI_2.jpg&amp;diff=1121"/>
		<updated>2025-01-08T04:51:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kain Ragi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Bayan&amp;diff=1117</id>
		<title>Tenun Bayan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Bayan&amp;diff=1117"/>
		<updated>2025-01-08T04:37:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Tenun Bayan (Foto: &amp;#039;&amp;#039;Weaving for Life&amp;#039;&amp;#039;) Kain Tenun dalam tatanan masyarakat Bayan tak hanya berfungsi sebagai penutup bagian-bagian tubuh. Ia mengiringi berbagai fase kehidupan di Bayan, sejak peristiwa kelahiran hingga mengantarkan raga ke peristirahatan terakhir. Tenun mengiringi keyakinan warga Bayan, berhubungan dengan Tuhan, berhubungan dengan sesama manusia, dan berhubungan dengan alam.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenu...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:PXL 20240821 105921161.jpg|thumb|Tenun Bayan (Foto: &#039;&#039;Weaving for Life&#039;&#039;)]]&lt;br /&gt;
Kain Tenun dalam tatanan masyarakat Bayan tak hanya berfungsi sebagai penutup bagian-bagian tubuh. Ia mengiringi berbagai fase kehidupan di Bayan, sejak peristiwa kelahiran hingga mengantarkan raga ke peristirahatan terakhir. Tenun mengiringi keyakinan warga Bayan, berhubungan dengan Tuhan, berhubungan dengan sesama manusia, dan berhubungan dengan alam.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Panggabean, Rosa. Tenun untuk Kehidupan. Jakarta: Terasmitra berkolaborasi dengan GEF-SGP Indonesia dan Lawe Indonesia. (hlm. 22)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berlokasi di Lombok utara, penduduk Bayan yang tinggal di kaki gunung Rinjani tersebut hingga kini masih memegang teguh adat istiadat dengan kearifan lokalnya. Ada banyak perhelatan adat di Bayan. Dalam setahun saja, ada sekitar 10 perhelatan sakral yang diadakan di Bayan. Dalam perayaan-perayaan besar, warga Bayan mengenakan tenun seperti peringatan Maulid Nabi, perayaan Idul Fitri, perayaan Idul Adha, ritual kematian, hingga khitanan untuk anak laki-laki. Dalam berbagai perhelatan adat tersebut, warga wajib menggunakan kain tenun.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[File:Londong Abang 2.jpg|thumb|Motif Londong Abang (Foto: &#039;&#039;Weaving for life)&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
Warga Bayan pun memproduksi sendiri kain tenun yang mereka gunakan dalam perhelatan-perhelatan adat. Tenun Bayan juga terkenal dengan motif Londong Abang. Londong artinya ikatan, abang yang memiliki arti merah sebagai simbol keberanian. Londong Abang memiliki motif tenun kotak-kotak hitam dengan warna dasar merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tradisi Bayan, hanya perempuan yang boleh menjadi pengrajin tenun. Biasanya para perempuan mengerjakan kain tenun di saat senggang, setelah bertani atau setelah melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Bayan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:PXL_20240821_105921161.jpg&amp;diff=1111</id>
		<title>File:PXL 20240821 105921161.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:PXL_20240821_105921161.jpg&amp;diff=1111"/>
		<updated>2025-01-08T04:20:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Seorang perempuan berpose dengan tenun bayan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Londong_Abang_2.jpg&amp;diff=1110</id>
		<title>File:Londong Abang 2.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Londong_Abang_2.jpg&amp;diff=1110"/>
		<updated>2025-01-08T04:05:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Motif Londong Abang&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Canang&amp;diff=1061</id>
		<title>Canang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Canang&amp;diff=1061"/>
		<updated>2025-01-07T10:06:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Nusa Penida-Rumput Laut Lembongan-15.jpg|thumb|314x314px|Canang (Foto: Edy Susanto/Kaeom Telapak)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Canang&#039;&#039; adalah bentuk sesaji umat Hindu Bali yang paling sederhana. Terbuat dari daun kelapa muda, diisi bunga warna-warni, dupa wangi, dan beberapa syarat lainnya. Di masa muda, rata-rata perempuan Bali wajib untuk bisa membuat &#039;&#039;canang&#039;&#039;.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang sudah banyak yang menjual &#039;&#039;canang&#039;&#039;, seharga Rp3.000 per buah. Jika ada yang memesan dengan tambahan isi berupa rokok, tembakau, kapur, pinang, daun sirih, biasanya harganya menjadi Rp5.000&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Penida]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Nusa_Penida-Rumput_Laut_Lembongan-15.jpg&amp;diff=1060</id>
		<title>File:Nusa Penida-Rumput Laut Lembongan-15.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Nusa_Penida-Rumput_Laut_Lembongan-15.jpg&amp;diff=1060"/>
		<updated>2025-01-07T10:05:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Canang, foto oleh Edy Susanto dalam menangkap pengetahuan lokal Mitra GEF SGP Fase 6&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Jero_Mangku&amp;diff=1052</id>
		<title>Jero Mangku</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Jero_Mangku&amp;diff=1052"/>
		<updated>2025-01-07T09:58:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 16.55.27.png|thumb|368x368px|I Wayan Darya Susila, Pemangku Pura Mundi, Nusa Penida. (Foto: Edy Susanto dalam buku Siasah, hlm 123)&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
Pemangku atau Jero Mangku adalah orang yang disucikan melalui proses &#039;&#039;ekajati mawinten&#039;&#039; (pembersihan diri pertama pada orang suci), sebagai pelayan atau penghubung antara manusia dan Sang Pencipta. Bertugas di pura, melayani umat yang &#039;&#039;ngaturang bakti&#039;&#039; (sembahyang umat Hindu), kapan saja, setiap saat. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kriteria untuk bisa dipilih oleh masyarakat menjadi Jero Mangku. Yang pertama adalah menguasai sastra Bali. Kedua, berperilaku yang menunjukkan kualitas sebagai pemuka agama. Dan, yang ketiga, telah menjalani &#039;&#039;aguron-guron&#039;&#039; (proses belajar dengan model pendidikan Hindu Bali tradisional) dari &#039;&#039;Sang Sulinggih&#039;&#039; atau &#039;&#039;Pandita&#039;&#039;. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; &lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Penida]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Screen_Shot_2025-01-07_at_16.55.27.png&amp;diff=1051</id>
		<title>File:Screen Shot 2025-01-07 at 16.55.27.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Screen_Shot_2025-01-07_at_16.55.27.png&amp;diff=1051"/>
		<updated>2025-01-07T09:56:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;I Wayan Darya Susila (57), Salah seorang Pemangku Pura Mundi, Nusa Penida.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Canang&amp;diff=1047</id>
		<title>Canang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Canang&amp;diff=1047"/>
		<updated>2025-01-07T09:50:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;Canang&amp;#039;&amp;#039; adalah bentuk sesaji umat Hindu Bali yang paling sederhana. Terbuat dari daun kelapa muda, diisi bunga warna-warni, dupa wangi, dan beberapa syarat lainnya. Di masa muda, rata-rata perempuan Bali wajib untuk bisa membuat &amp;#039;&amp;#039;canang&amp;#039;&amp;#039;.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;Canang&#039;&#039; adalah bentuk sesaji umat Hindu Bali yang paling sederhana. Terbuat dari daun kelapa muda, diisi bunga warna-warni, dupa wangi, dan beberapa syarat lainnya. Di masa muda, rata-rata perempuan Bali wajib untuk bisa membuat &#039;&#039;canang&#039;&#039;.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang sudah banyak yang menjual &#039;&#039;canang&#039;&#039;, seharga Rp3.000 per buah. Jika ada yang memesan dengan tambahan isi berupa rokok, tembakau, kapur, pinang, daun sirih, biasanya harganya menjadi Rp5.000&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Penida]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tanaman_Komponen_Upakara&amp;diff=1045</id>
		<title>Tanaman Komponen Upakara</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tanaman_Komponen_Upakara&amp;diff=1045"/>
		<updated>2025-01-07T09:45:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Tiga Tanaman Komponen Upakara&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelapa, bambu, dan rempah-rempah adalah tiga komponen penting dalam membuat perlengkapan &#039;&#039;upakara&#039;&#039;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Lopulalan, Dicky dan Palupi Nirmala. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1Axa5TnZ0-CsCc1x7CB1j26fTQva7V20y/view?usp=sharing Sangia, Hui, Sang Hyang Dollar, dan Para Pembaca Bintang]. Jakarta: Terasmitra dan Kapasungu dan didukung oleh GEF SGP Indonesia (hal. 166)&amp;lt;/ref&amp;gt;. &#039;&#039;Upakara&#039;&#039; adalah bentuk-bentuk sesaji dalam &#039;&#039;yadnya&#039;&#039;, upacara keagamaan Hindu Bali&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [[Siasah]]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kelapa&#039;&#039;&#039;. Bagian yang diambil meliputi daun muda atau janur, daun tua, daun hijau, selaput bunga kelapa, pelepah, buah, dan lidi). Ada bermacam jenis kelapa, yaitu kelapa gading, kelapa &#039;&#039;gadang&#039;&#039; (hijau), kelapa bulan (sama seperti kelapa gading tapi warnanya agak putih), kelapa &#039;&#039;brumbun&#039;&#039; (merah, kuning, hitam, putih), kelapa &#039;&#039;sudamala&#039;&#039; (agak hijau), dan kelapa merah. &lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bambu&#039;&#039;&#039;. Menjadi komponen utama saat upacara &#039;&#039;manusa yadnya&#039;&#039; saat anak berumur tiga dan enam bulan. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu kuning. Bambu lain yang digunakan untuk upacara adalah &#039;&#039;tiing penjor&#039;&#039;. &lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rempah-rempah&#039;&#039;&#039;. Yang termasuk ke dalam kelompok ini, antara lain lengkuas, kencur, cabai, jahe, kunyit dan temu-temuan, serai, sirih, pinang, bawang butih, bawang merah, keluwek, kemiri, dll.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Penida]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Jero_Mangku&amp;diff=1042</id>
		<title>Jero Mangku</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Jero_Mangku&amp;diff=1042"/>
		<updated>2025-01-07T09:37:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Pemangku atau Jero Mangku adalah orang yang disucikan melalui proses &amp;#039;&amp;#039;ekajati mawinten&amp;#039;&amp;#039; (pembersihan diri pertama pada orang suci), sebagai pelayan atau penghubung antara manusia dan Sang Pencipta. Bertugas di pura, melayani umat yang &amp;#039;&amp;#039;ngaturang bakti&amp;#039;&amp;#039; (sembahyang umat Hindu), kapan saja, setiap saat. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Te...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pemangku atau Jero Mangku adalah orang yang disucikan melalui proses &#039;&#039;ekajati mawinten&#039;&#039; (pembersihan diri pertama pada orang suci), sebagai pelayan atau penghubung antara manusia dan Sang Pencipta. Bertugas di pura, melayani umat yang &#039;&#039;ngaturang bakti&#039;&#039; (sembahyang umat Hindu), kapan saja, setiap saat. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kriteria untuk bisa dipilih oleh masyarakat menjadi Jero Mangku. Yang pertama adalah menguasai sastra Bali. Kedua, berperilaku yang menunjukkan kualitas sebagai pemuka agama. Dan, yang ketiga, telah menjalani &#039;&#039;aguron-guron&#039;&#039; (proses belajar dengan model pendidikan Hindu Bali tradisional) dari &#039;&#039;Sang Sulinggih&#039;&#039; atau &#039;&#039;Pandita&#039;&#039;. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; &lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Nusa Penida]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Balobinde&amp;diff=1039</id>
		<title>Balobinde</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Balobinde&amp;diff=1039"/>
		<updated>2025-01-07T09:28:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Balobinde atau nasi jagung dalam bahasa Gorontalo, merupakan makanan pokok masyarakat di Gorontalo. Cara membuatnya, tiga kaleng beras jagung dicampur dengan empat kaleng beras padi. &amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt; Category:Pangan Lokal Category:Gorontalo&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Balobinde atau nasi jagung dalam bahasa Gorontalo, merupakan makanan pokok masyarakat di Gorontalo. Cara membuatnya, tiga kaleng beras jagung dicampur dengan empat kaleng beras padi. &amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Pangan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Gorontalo]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Terasering&amp;diff=1034</id>
		<title>Terasering</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Terasering&amp;diff=1034"/>
		<updated>2025-01-07T09:20:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 15.49.14.png|thumb|Lahan Pertanian Terasering di wilayah Satuan Pemukiman Desa Saritani, Gorontalo (Foto: Edy Susanto pada buku Siasah, hlm 34)&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
Terasering adalah teknik bertanam di lahan miring dengan membuat terasan atau membuat semacam tingkatan-tingkatan tangga di lahan miring. Terasering sangat bermanfaat bagi petani di lahar miring. karena, dapat mengurangi panjang lereng, mampu menahan air, serta memperbesar peluang tanah untuk menyerap air, sehingga tanah juga terhindar dari erosi.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Gorontalo]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Molapo&amp;diff=1033</id>
		<title>Molapo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Molapo&amp;diff=1033"/>
		<updated>2025-01-07T09:19:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 16.03.47.png|thumb|Bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan Molapo, yaitu sereh wangi, sabut kelapa, sarang lebah kering, dan kemenyan. (Foto: Edy Susanto dalam buku Siasah, hlm 48)&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Molapo&#039;&#039; merupakan ritual pengasapan kebun yang dilakukan oleh [[Panggoba]], yang bertujuan untuk melindungi tanaman kebun dan mengusir hama yang merusak. salah satunya hama ulat. Dalam sekali siklus tanam, &#039;&#039;panggoba&#039;&#039; melakukan setidaknya tiga hingga lima kali ritual &#039;&#039;molapo&#039;&#039;. Tak ada waktu khusus untuk melakukan &#039;&#039;molapo&#039;&#039;. Ritual ini bisa digelar pada pagi, siang, atau sore hari. Tergantung kondisi tanaman, atau terserah pada permintaan orang yang mengundang &#039;&#039;Panggoba&#039;&#039;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Molapo bisa dilakukan dengan dua cara. pertama, dengan duduk setengah jongkok di tengah kebun dan memulai ritual. atau, dilakukan dengan mengelilingi perkebunan dari sudut ke sudut.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena panggoba sudah langka, hampir tak ada lagi yang percaya akan kekuatan panggoba selain mereka yang dari kelompok generasi tua. Degradasi budaya sekaligus kemajuan pengetahuan telah membuat masyarakat skeptis, dan melabeli ritual yang dilakukan oleh panggoba sebagai perilaku sirik. Padahal bila dilihat dari kacamata pertanian hijau, &#039;&#039;molapo&#039;&#039; justru mempertahankan kestabilan ekosistem dan siklus hidup organisme. Apalagi jika dibandingkan dengan kegiatan pertanian sekarang, yang lazimnya memakai zat kimia sintetis untuk mengusir hama tanaman. Resiko dari penggunaan pestisida adalah kerusakan keanekaragaman hayati. Sementara teknik pengasapan dinilai lebih ramah lingkungan. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Gorontalo]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kemampuan membaca alam]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Molapo&amp;diff=1029</id>
		<title>Molapo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Molapo&amp;diff=1029"/>
		<updated>2025-01-07T09:08:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 16.03.47.png|thumb|Bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan Molapo, yaitu sereh wangi, sabut kelapa, sarang lebah kering, dan kemenyan. (Foto: Edy Susanto)&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;]] &amp;#039;&amp;#039;Molapo&amp;#039;&amp;#039; merupakan ritual pengasapan kebun...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 16.03.47.png|thumb|Bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan Molapo, yaitu sereh wangi, sabut kelapa, sarang lebah kering, dan kemenyan. (Foto: Edy Susanto)&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Molapo&#039;&#039; merupakan ritual pengasapan kebun yang dilakukan oleh [[Panggoba]], yang bertujuan untuk melindungi tanaman kebun dan mengusir hama yang merusak. salah satunya hama ulat. Dalam sekali siklus tanam, &#039;&#039;panggoba&#039;&#039; melakukan setidaknya tiga hingga lima kali ritual &#039;&#039;molapo&#039;&#039;. Tak ada waktu khusus untuk melakukan &#039;&#039;molapo&#039;&#039;. Ritual ini bisa digelar pada pagi, siang, atau sore hari. Tergantung kondisi tanaman, atau terserah pada permintaan orang yang mengundang &#039;&#039;Panggoba&#039;&#039;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Molapo bisa dilakukan dengan dua cara. pertama, dengan duduk setengah jongkok di tengah kebun dan memulai ritual. atau, dilakukan dengan mengelilingi perkebunan dari sudut ke sudut.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena panggoba sudah langka, hampir tak ada lagi yang percaya akan kekuatan panggoba selain mereka yang dari kelompok generasi tua. Degradasi budaya sekaligus kemajuan pengetahuan telah membuat masyarakat skeptis, dan melabeli ritual yang dilakukan oleh panggoba sebagai perilaku sirik. Padahal bila dilihat dari kacamata pertanian hijau, &#039;&#039;molapo&#039;&#039; justru mempertahankan kestabilan ekosistem dan siklus hidup organisme. Apalagi jika dibandingkan dengan kegiatan pertanian sekarang, yang lazimnya memakai zat kimia sintetis untuk mengusir hama tanaman. Resiko dari penggunaan pestisida adalah kerusakan keanekaragaman hayati. Sementara teknik pengasapan dinilai lebih ramah lingkungan. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Gorontalo]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kemampuan membaca alam]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Screen_Shot_2025-01-07_at_16.03.47.png&amp;diff=1024</id>
		<title>File:Screen Shot 2025-01-07 at 16.03.47.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Screen_Shot_2025-01-07_at_16.03.47.png&amp;diff=1024"/>
		<updated>2025-01-07T09:05:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan molapo antara lain adalah sereh wangi, sabut kelapa, sarang lebah kering, dan kemenyan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Terasering&amp;diff=1018</id>
		<title>Terasering</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Terasering&amp;diff=1018"/>
		<updated>2025-01-07T08:54:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 15.49.14.png|thumb|Lahan Pertanian Terasering di wilayah Satuan Pemukiman Desa Saritani, Gorontalo (Foto: Edy Susanto)&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;]] Terasering adalah teknik bertanam di lahan miring dengan membuat terasan atau membuat semacam...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Screen Shot 2025-01-07 at 15.49.14.png|thumb|Lahan Pertanian Terasering di wilayah Satuan Pemukiman Desa Saritani, Gorontalo (Foto: Edy Susanto)&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
Terasering adalah teknik bertanam di lahan miring dengan membuat terasan atau membuat semacam tingkatan-tingkatan tangga di lahan miring. Terasering sangat bermanfaat bagi petani di lahar miring. karena, dapat mengurangi panjang lereng, mampu menahan air, serta memperbesar peluang tanah untuk menyerap air, sehingga tanah juga terhindar dari erosi.&amp;lt;ref&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
[[Category:Gorontalo]]&lt;br /&gt;
[[Category:Pertanian]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Screen_Shot_2025-01-07_at_15.49.14.png&amp;diff=1016</id>
		<title>File:Screen Shot 2025-01-07 at 15.49.14.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=File:Screen_Shot_2025-01-07_at_15.49.14.png&amp;diff=1016"/>
		<updated>2025-01-07T08:50:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;terashering di Gorontalo&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Biboki&amp;diff=850</id>
		<title>Tenun Biboki</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Biboki&amp;diff=850"/>
		<updated>2025-01-04T10:01:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hampir sebagian besar perempuan Biboki menjadikan tenun sebagai sumber pendapatan ekonomi keluarga. Mereka menenun dan memahami beragam motif secara turun temurun. Pengerjaannya, rata-rata masih tradisional dengan menggunakan alat-alat tradisional. Para penenun membuat alat-alat sendiri dengan menggunakan bahan dari kayu pilihan, bebak dan bambu. Alat-alat ini dibuat secara sederhana, mudah dibawa ke mana saja, misalnya dibawa ke kebun pada saat menjaga burung pipit.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam piramida ekonomi keluarga, pondasi dasarnya adalah tenun, kemudian ternak dan kebun. Tenun terbukti bisa menjadi penyangga ekonomi keluarga ketika produksi bahan pokok makanan (seperti padi ladang, jagung, kacang-kacangan) yang ditanam masyarakat mengalami gagal panen&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jenis Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Di kalangan masyarakat Biboki, dikenal tiga jenis kain tenun khas biboki, yaitu &#039;&#039;&#039;kain tenun ikat (&#039;&#039;futus&#039;&#039;)&#039;&#039;&#039;, &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;sotis&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;buna&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;. Yang membedakan ke tiganya ada pada teknik pembuatannya. Tenun ikat &#039;&#039;(futus)&#039;&#039;, teknik tenunnya dilakukan dengan cara mengikat benang pakan dan benang lungsi. &#039;&#039;Sotis&#039;&#039;, teknik tenunnya tanpa diikat, motif langsung ditenun dengan memasukkan benang secara langsung. Sedangkan &#039;&#039;buna&#039;&#039;, teknik tenunnya menggunakan teknik songket.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra (hal. 19)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ketiga jenis ini, &#039;&#039;futus&#039;&#039; yang paling banyak dikembangkan. &#039;&#039;Futus&#039;&#039; berarti ikat. Maksudnya, untuk mendapatkan motif yang diharapkan, para penenun mengikat bagian-bagian benang tertentu sesuai gambar yang hendak ditampilkan, misalnya binatang atau tumbuhan. Selanjutnya, benang yang sudah diikat dicelupkan ke dalam pewarna. Setelah kering, ikatan tadi dibuka dan akan terlihat gambar yang diinginkan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bentuk Kain Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Bentuk kain ada yang berupa &#039;&#039;&#039;kain beti/ &#039;&#039;bet nae&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (lebar, berupa lembaran), &#039;&#039;&#039;kain &#039;&#039;tais&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (untuk perempuan biasanya dikombinasikan dengan buna, &#039;&#039;jadilah tais buna&#039;&#039;), &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;bet ana&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;/ selendang,&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;futu&#039;&#039;/ ikat pinggang&#039;&#039;&#039;.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nilai Tenun Ikat Biboki&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
Kain tenun Ikat Biboki dikatakan unik karena mengandung 6 hal pokok/ nilai, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Nilai Kebersamaan dan Kegotongroyongan : di masa lampau, para perempuan berkumpul atau berkelompok untuk memintal benang (&#039;&#039;Nasun Abas Nabua&#039;&#039;). Kebiasaan ini menjadi semarak ketika kegiatan memintal benang dilaksanakan pada saat bulan purnama disertai gelak tawa.&lt;br /&gt;
# Nilai Keindahan/Estetis : ragam/jenis dan motif-motif tenun biboki sangat beragam, mulai dari beti (kain lebar biasanya untuk laki-laki), tais (kain untuk permepuan), bet ana (selendang), futu (ikat pinggang) hingga buna. Demikian juga penggunaan warna yang dominan merah.&lt;br /&gt;
# Nilai Etik : mewarnai tata busana pemakaian sehari-hari dan pesta, sehingga orang dapat membedakan pemakaian sehari-hari dan pesta serta menghormati kedudukan dan status sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;
# Nilai Budaya : Kain tenun Ikat motif Biboki yang terbuat dari bahan kapas asli dan pewarna alami adalah bukti kearifan lokal yang berlaku secara turun-temurun perlu didukung pelestariannya.&lt;br /&gt;
# Nilai Religius : Kain tenun Ikat Biboki sebagai media yang dapat dipakai untuk memuja/sembahyang kepada leluhur, karena kain tenun Ikat diyakini mempunyai kekuatan untuk mejauhkan musibah.&lt;br /&gt;
# Nilai Ekonomis : Kain tenun Ikat Biboki merupakan sumber penghasilan keluarga, khususnya selama musim kering ketika penduduk tidak mengerjakan kegiatan pertanian di kebun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Motif-motif Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Munculnya motif Biboki dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan setempat, binatang, mitos yang berkembang/hewan mitolgi. Misalnya suatu daerah banyak terdapat jenis burung, di daerah tersebut akan berkembang motif burung&amp;lt;ref&amp;gt;John Amsikan (Kepala protokol Kabupaten TTU)&amp;lt;/ref&amp;gt;. Dulu motif tenun diturunkan secara turun menurun, dari generasi ke generasi. Sekarang, motif ini berkembang mengikuti zaman.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, beberapa motif tenun biboki yang berkembang secara turun temurun hingga motif terkini diantaranya: &#039;&#039;Fut Biboki&#039;&#039; (biboik), &#039;&#039;makaif&#039;&#039; (1-20), &#039;&#039;fut batola&#039;&#039;, &#039;&#039;hausufa&#039;&#039;, &#039;&#039;nik no’o&#039;&#039;, &#039;&#039;noa no’o&#039;&#039;, &#039;&#039;beabkataf&#039;&#039;, &#039;&#039;kolo&#039;&#039;/ burung, bintang, telinga hitam, batako, arloji hingga katak Jawa.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa motif menjadi ciri khas daerah sehingga ketika orang motif, bisa menebak dari mana orang tersebut berasal.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Desa Tokbesi, berikut adalah motif-motif yang saat ini dikembangkan:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Makaif&#039;&#039; (Mulai dari &#039;&#039;makaif mese&#039;&#039; hingga &#039;&#039;makaif boes&#039;&#039;. Motif ini bermacam-macam. Salah  satunya berwarma hitam putih)&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Fut Biboki (biboik) ana&#039;&#039;,&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Kikis mutih nik no’o&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Makaif&#039;&#039; kombinasi buna&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Hausufa&#039;&#039; (bunga).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Nia nok’o&#039;&#039; (motif daun pria/ parea/ pare yang kecil dan besar)&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Nik no’o.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Buna nia no’o naik&#039;&#039; (kombinasi songket daun parea besar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Munculnya motif-motif baru ditengarai sejak dimulainya persentuhan para penenun Biboki dengan ‘dunia luar’ dan mulai masuknya benang- benang toko dan pewarna sintetis seperti naptol dan wantek. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ornamen Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Ornamen-ornamen lain yang menjadi ciri khas tenun Biboki ialah adanya motif-motif kecil seperti &#039;&#039;puah kebe, oe mata, mat bobo, kikis muti, kikis metan.&#039;&#039;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri khasnya dari nenek moyang merupakan lambang dari Biboki, &#039;&#039;Mak aif Mese&#039;&#039;, &#039;&#039;Mak Aif Sa&#039;&#039;, &#039;&#039;Mat Bobo&#039;&#039; (Mata Bulat), &#039;&#039;Mak aif Feten&#039;&#039; (&#039;&#039;Mak aif&#039;&#039; yang lepas-lepas). &#039;&#039;Mak aif&#039;&#039; artinya bersambung, dan &#039;&#039;Feten&#039;&#039; artinya dibagi bagi marga (beda-beda marga) yang mencerminkan banyak marga, kawin mengawin dan diikat menjadi keluagra dan beranak.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Biboki]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tahapan_menenun&amp;diff=849</id>
		<title>Tahapan menenun</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tahapan_menenun&amp;diff=849"/>
		<updated>2025-01-04T09:55:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;== Tahapan-tahapan menenun yang dilakukan oleh perempuan di Mollo, Amanuban, Amanatun, Biboki dan Sabu Raijua-Nusa Tenggara Timur (NTT) ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Memintal Benang&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Menenun awalnya menggunakan kapas. Orang Mollo mengenal tanaman kapas di hutan, bukan sebagai bahan pembuat benang. Sebutan kapas atau &#039;&#039;a bas&#039;&#039; bermula dari ulat berwarna hitam yang disebut &#039;&#039;bankofak&#039;&#039;, yang hidup pada pohon &#039;&#039;Kanunak&#039;&#039; (&#039;&#039;Lindera sp&#039;&#039;). Ulat tersebut membuat sarang putih seperti kapas yang disebut &#039;&#039;ab neno&#039;&#039;. Kapas mirip &#039;&#039;ab neno&#039;&#039;, maka ia diberi sebutan &#039;&#039;a bas&#039;&#039;, yang artinya merangkul. Belakangan mereka mencoba menanam biji kapas dan ternyata tumbuh dengan baik. Sejak itu mereka membudidayakan kapas sebagai bahan membuat benang.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Maimunah, Siti. 2017. [https://drive.google.com/file/d/1uNizeFF1OGRJtdFIWVBq0KjFeYssRIcc/view?usp=sharing Tenun dan Para Penjaga Identitas]. Jakarta: Poros Photo, Perhimpunan Lawe, Organisasi Attaemamus (OAT), dan GEF SGP Indonesia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua jenis kapas untuk bahan tenun, yang bunganya berserat panjang banyak ditemukan di kawasan Mollo, sementara yang berserat pendek banyak ditemukan kawasan pesisir Amanuban. Kapas yang dipanen dari pohon kapas mengalami berbagai tahapan perlakuan sebelummenjadi benang. Perlakuan itu meliputi: 1) memisahkan kapas dari biji, 2) merenggang dan melembutkan kapas, 3) mengulung kapas, 4) memintal benang, dan 5) menggulung benang.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# [[File:Alat Mangeri.jpg|thumb|Alat Mangeri untuk mengeluarkan biji kapas. (Foto: TM untuk GEF SGP fase 7 / Lia de Ornay)|283x283px]][[File:Alat-Pelepas-Biji-Kapas-6009.jpg|thumb|412x412px|Alat Pelepas Biji Kapas (dalam bahasa Mollo: Bninis/Abninis) (Foto: Rosa Panggabean) ]]&#039;&#039;&#039;Memisahkan Kapas Dari Biji&#039;&#039;&#039;. Kapas yang baru dipetik biasanya diletakkan di atas &#039;&#039;[[nyiru]]&#039;&#039;, lantas dijemur hingga dirasa cukup kering untuk memudahkan pemisahan serat dari bijinya (&#039;&#039;abtutas&#039;&#039;). Ada biji kapas yang mudah dipisahkan dari seratnya, tapi ada juga yang sulit. Kapas dapat dipisahkan dari biji menggunakan tangan atau &#039;&#039;abninis&#039;&#039;/&#039;&#039;bninis/bninsa&#039;&#039;, alat dari kayu. Bentuk &#039;&#039;abninis&#039;&#039; mirip mol atau gilingan mie. Serat kapas yang masih mengandung biji dipipihkan dan dimasukan pelan-pelan ke dalam gilingan &#039;&#039;abninis&#039;&#039;. Serat kapas yang keluar dari penggilingan otomatis akan terpisah dari bijinya yang berjatuhan di kaki A&#039;&#039;bninis&#039;&#039;. &#039;&#039;Abninis&#039;&#039; terbuat dari kayu kasuari. Cara kerjanya sederhana. Serat kapas dimasukkan dari bagian belakang gilingan menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanan menggerakkan pemutar gilingan. Dua roda dari kayu akan memisahkan serat dari biji kapas&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;. Di pulau Sabu-Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat disana biasa menyebut proses ini dengan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Mangarri Wangngu&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;. Proses ini menggunakan alat &#039;&#039;mangeri&#039;&#039; untuk mengeluarkan biji kapas yang tersisa.&lt;br /&gt;
# [[File:Sifo-6017.jpg|thumb|&#039;&#039;Sifo&#039;&#039; (Foto : Rosa Panggabean)]]&#039;&#039;&#039;Melembutkan kapas&#039;&#039;&#039;. Setelah dibersihkan dari biji, serat kapas kemudian dilembutkan sehingga tidak lagi berbentuk gumpalan serat kapas. Serat kapas menjadi lebih lembut, merenggang, dan mudah dibentuk. Alat yang digunakan &#039;&#039;sifo&#039;&#039; yang berbentuk mirip busur. Bagian yang melengkung berasal dari bambu, sedangkan tali busur berasal dari tali pelepah pohon &#039;&#039;Gewang&#039;&#039; (&#039;&#039;Corypha utan&#039;&#039;). Cara menggunakan &#039;&#039;sifo&#039;&#039;, menempelkan bagian tali busur ke permukaan kapas dan menggetarkan tali busur tersebut berulang-ulang agar kapas menempel dan terpisah seratnya. Cara ini akan menghasilkan kapas yang bebas dari kotoran dan gumpalan sehingga solid saat dipintal dan menghasilkan benang dengan ketebalan seragam.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Menggulung Kapas&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;.&#039;&#039; Kapas ya&amp;lt;nowiki/&amp;gt;ng sudah dihaluskan lantas dipipihkan, dibuat gulungan seperti kepompong. Kegiatan menggulung ini disebut &#039;&#039;nunu&#039;&#039; (bahasa Mollo) atau &#039;&#039;O Nunu&#039;&#039; (bahasa Biboki). Hasilnya berupa gulungan kapas yang disebut &#039;&#039;nasun&#039;&#039;. Gulungan inilah bahan dasar untuk memintal benang.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Memintal benang atau &#039;&#039;Tasun&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&amp;lt;nowiki/&amp;gt;&#039;&#039;.&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt;[https://youtube.com/shorts/s-eCa6bUACY?si=urQm7LrrPNHIRMA1 Proses pemintalan kapas menjadi benang] oleh Mama Bendelina Buky - Ketua Kelompok Tenun Ikat Tewuni Rai Desa Peddaro, Sabu Raijua, NTT&amp;lt;/ref&amp;gt; Memintal gulungan kapas menjadi benang menggunakan alat yang dinamakan [[Ike suti|&#039;&#039;Ike suti&#039;&#039;]]. Alat ini terdiri dari dua bagian, lembing pendek dan tempurung tempat putaran. &#039;&#039;Ike&#039;&#039; terbuat dari kayu kasuari, bentuknya mirip lembing dengan panjang sekitar 25 cm, berujung runcing. Bagian kepala &#039;&#039;ike&#039;&#039; lebih kecil dibanding bagian badannya. Cara menggunakannya, pertama gulungan kapas ditempelkan pada kepala &#039;&#039;ike&#039;&#039; yang sudah dibasahi, kemudian diputar menari seperti gasing. Tangan kanan memutar &#039;&#039;ike&#039;&#039;, tangan kiri memegang gulungan kapas. Serat yang lepas dari gulungan kapas membentuk benang yang menempel pada &#039;&#039;ike&#039;&#039;. &#039;&#039;Suti&#039;&#039; menjadi arena yang membatasi putaran &#039;&#039;ike&#039;&#039;.  &#039;&#039;Suti&#039;&#039; dalam bahasa lokal bermakna tempat kosong, arena yang hanya bisa dipakai &#039;&#039;ike&#039;&#039; berputar. &#039;&#039;Suti&#039;&#039; biasanya dibuat dari tempurung kelapa, tapi ada juga yang menggunakan kulit kerang besar. Pada bagian dasar tempurung dialasi bubuk kayu atau abu dapur untuk melincinkan putaran &#039;&#039;ike&#039;&#039;. &#039;&#039;Ike suti&#039;&#039; sarat filosofi. Lembing kecil ini diibaratkan tubuh perempuan. Bagian bawah perut, bagian atas dada. Saat pintalan benang memenuhi tubuh &#039;&#039;ike&#039;&#039;, maka ia harus digeser ke bagian atas, di bagian dada. Jika ike sudah penuh, disebut satu &#039;&#039;ike&#039;&#039;, maka bagian badan akan membuncit, demikian juga bagian dada akan terlihat cembung. Ia bagaikan &#039;&#039;bifel ma&#039;apu&#039;&#039; atau perempuan hamil. Saat kondisi ini, memintal harus dihentikan sebab putaran &#039;&#039;ike&#039;&#039; akan terganggu jika dipaksakan ditambah benang. Artinya sudah waktunya melepaskan benang, memindahkannya dengan menggulungnya di sebuah batu atau potongan kayu hingga membentuk bola.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Menggulung Benang atau &#039;&#039;Taunu&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;. Benang hasil &#039;&#039;tasun&#039;&#039; digulung dengan alat yang disebut &#039;&#039;none&#039;&#039;. Alat ini terbuat dari kayu mindi (&#039;&#039;Melia azedarach)&#039;&#039;. &#039;&#039;None&#039;&#039; terdiri dari dua bagian, yaitu bagian kayu panjang dan kayu pendek yang dipasang dengan arah berlawanan di kedua ujung bagian kayu panjang. Bagian panjang digunakan untuk memegang alat, sementara batang pendek untuk menautkan benang silih berganti. &#039;&#039;None&#039;&#039; membuat benang menjadi lurus. Hasilnya, gulungan benang yang disebut kepala benang. Satu gulungan disebut satu kepala benang. Gulungan ini akan memudahkan benang diurai saat dilakukan pencelupan warna. Sebelum diwarnai, kepala benang ini disimpan dalam &#039;&#039;[[nyiru]]&#039;&#039; atau keranjang dari daun lontar.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Mewarnai&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Setelah benang disiapkan dalam bentuk kepala benang, tahap selanjutnya mewarnai. Pewarna alam kain tenun biasanya diambil dari halaman rumah, kebun, maupun hutan. Pewarna alam berasal dari akar, daun, kulit, buah, dan bunga tanaman. Awalnya warna tenunan hanya putih, warna kapas. Kemudian, untuk mendapatkan warna putih cerah, benang direndam dalam cairan tumbukan jagung putih yang disebut &#039;&#039;bane&#039;&#039;. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahap &#039;&#039;bane&#039;&#039; tersebut, benang dicelup pada larutan tepung jagung atau tepung ubi yang sudah dicampur dengan air panas. Putar larutan satu arah agar tercampur. Pencelupan ini bertujuan membuat benang kaku, tidak mudah putus, serta terkunci warnanya. &#039;&#039;Bane&#039;&#039; dipakai hanya untuk warna putih. Setelah dicelup, benang dijemur di &#039;&#039;loan&#039;&#039;, alat yang berfungsi mengencangkan benang. Begitu kering, benang digulung di batu kecil hingga berbentuk bola benang. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Temuan warna kemudian berkembang ke hitam. Warna ini didapat dari lumpur bercampur rumput yang sudah membusuk dari kubangan atau tepian danau. Berikutnya ditemukan warna merah dari rebusan kulit kasuari. Lambat laun makin beragam warna yang ditemukan, semuanya dari tanaman dan bahan lokal. Daftarnya sebagai berikut:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[File:Daun Tarum.jpg|thumb|Daun Tarum. (Foto: TM untuk GEF SGP fase 7 / Lia de Ornay)]]Hitam, biasanya mengunakan daun tarum atau nila, pohon matoj, lumpur, juga akar meko (di Mollo) &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;. Sementara di Biboki, warna hitam dan biru nila dari daun tarum dan kapur sirih. Selain itu juga dapat dihasilkan dari kulit pohon &#039;&#039;nitas&#039;&#039;, &#039;&#039;paukase&#039;&#039;/ damar, ramuan daun (&#039;&#039;maol taum&#039;&#039;) daun &#039;&#039;asa manmunu&#039;&#039;, kulit pohon damar indigo.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* [[File:Buah Pohon Nitas.jpg|thumb|Buah pohon Nitas &#039;&#039;(Sterculia foetida)&#039;&#039;. (Foto: TM untuk GEF SGP fase 7 / Lia de Ornay)]]Merah, didapat dari buah dan akar mengkudu, kulit cemara, buah kemiri, &#039;&#039;kis kase&#039;&#039; (&#039;&#039;Lantana camara&#039;&#039;), dan daun jati. Bisa juga menggunakan perasan air buah kesum atau rambutan hutan yang bijinya berwarna merah&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;. Orang Sabu Raijua-NTT biasa menggunakan buah pohon Nitas &#039;&#039;(Sterculia foetida)&#039;&#039;. Di Biboki, biasa menggunakan kulit pohon dadap, kemiri, daun kayu cendana, daun pohon perdu yang ditumbuk sekaligus. Selanjutnya dicampur dengan air secukupnya untuk kebutuhan perendaman benang (tannin).&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Biru, berasal dari &#039;&#039;makmoenabas, tauma/&#039;&#039;tarum, &#039;&#039;fenianako&#039;&#039;, &#039;&#039;nismetan&#039;&#039;/ketapang hutan&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Merah muda, berasal dari campuran tumbukan akar &#039;&#039;kis kase&#039;&#039; dan kapur.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; Di Biboki, dapat dihasilkan dari buah kaktus&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Kuning, dihasilkan dari parutan kunyit.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; Di Biboki, dapat dihasilkan dari tanaman kunyit, kulit akar &#039;&#039;bakulu&#039;&#039;/ mengkudu, daun asam, dan air jeruk nipis.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Oranye, hasil campuran parutan kunyit dan kapur.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Hijau, dari daun &#039;&#039;arbila&#039;&#039; atau daun pinang.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; Di Biboki dihasilkan dari daun kacang hutan, daun pare, daun pepaya, daun pinang dan kulit pohon mangga.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Coklat, berasal dari kulit kayu merah&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Putih, didapat dengan melakukan &#039;&#039;bane&#039;&#039;, mencelupkan dalam larutan tepung jagung.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pewarnaan bisa dilakukan berulang-ulang sesuai kepekatan warna yang diinginkan. Setelah pewarnaan dirasa cukup, benang kemudian diangin-anginkan hingga kering. Biasanya para penenun tidak menjemur langsung di bawah terik matahari. Tahapan ini dilanjutkan dengan merenggangkan benang dan menggulungnya dalam bentuk bulatan. Teknis pewarnaan ini akan berbeda jika menggunakan motif &#039;&#039;futus&#039;&#039; atau ikat. Sebelum diwarnai, benang sudah harus disusun motifnya. Benang diikat menggunakan serat daun &#039;&#039;gewang&#039;&#039; (belakangan ini sudah menggunakan tali rafia) sesuai dengan motif yang diinginkan. Bagian yang diwarnai tidak diikat. Begitu seterusnya sehingga seluruh benang memiliki warna sesuai yang diharapkan&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Menenun&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Usai mewarnai benang, diteruskan dengan tahapan menenun. Proses menenun menghabiskan banyak waktu. Penenun harus bisa memperkirakan berapa benang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sehelai kain tenun berdasarkan ukuran yang diinginkan. Belum lagi meletakkan motif, baik menggunakan motif &#039;&#039;futus&#039;&#039;, &#039;&#039;lotis&#039;&#039;, dan &#039;&#039;buna&#039;&#039;. Paparan berikut akan menjelaskan peralatan apa saja yang digunakan saat menenun.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# [[File:Hniun-1933.jpg|thumb|&#039;&#039;Paos Niun/Niuna&#039;&#039; yang menggunakan karung bekas (Foto: Rosa Panggabean)]]&#039;&#039;Paos Niun&#039;&#039; (bahasa Mollo)/Niuna (bahasa Biboki). Semacam papan elastis yang dipasang di punggung penenun dan diikat dengan tali pada kedua ujung atis sehingga &#039;&#039;lolo&#039;&#039; mengencang. Alat ini membuat poisisi duduk penenun kencang dan lurus. &#039;&#039;Paos niun&#039;&#039; menekan di antara &#039;&#039;nekan&#039;&#039;, &#039;&#039;atis&#039;&#039;, dan punggung. Di masa lalu alat ini biasanya dibuat dari kulit rusa atau kulit kambing. Zaman sekarang, menggunakan kertas bekas pembungkus semen atau karung plastik karena kulit rusa dan kulit kambing langka.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Lolo&#039;&#039;. Alat untuk memasang benang pada alat tenun. &#039;&#039;Lolo&#039;&#039; membuat benang menegang sehingga memudahkan proses menenun dan membuat posisi benang rapat saat ditenun. Alat ini terdiri dari dua patok atas dan bawah, serta dua tali di bagian kiri dan kanan. Ukuran panjang dan lebar lolo bisa disesuaikan dengan keinginan penenun.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Panaf&#039;&#039; atau &#039;&#039;Atis&#039;&#039;. &#039;&#039;Atis&#039;&#039; digunakan untuk menjepit benang atas dan benang bawah sehingga membentuk tenunan yang rapi dan kuat. Alat ini terdiri dari dua tangkup kayu dari batang kasuari yang menjepit kain di tengah-tengah.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Nekan&#039;&#039; bersama &#039;&#039;Atis&#039;&#039;. &#039;&#039;Nekan&#039;&#039; memiliki peran tak terpisahkan dengan &#039;&#039;atis&#039;&#039;. Ia berfungsi mengencangkan benang yang sudah diatur dalam alat tenun, baik benang atas maupun bawah. &#039;&#039;Nekan&#039;&#039; di bagian ujung kaki, &#039;&#039;atis&#039;&#039; di bagian perut, dan &#039;&#039;paos niun&#039;&#039; di pinggang penenun bekerja bersama membuat benang menegang atau melentur sehingga bisa ditenun. Nekan dibuat dari bambu ataupun batang enau, sebesar ukuran &#039;&#039;ut&#039;&#039; besar.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Senu&#039;&#039;. Alat berbahan kayu ini mirip sebilah &#039;&#039;pedang&#039;&#039;. &#039;&#039;Senu&#039;&#039; berfungsi merapatkan antar benang vertikal dan horisontal agar tak memiliki celah.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Sauban&#039;&#039;. Alat berbentuk lonjong kecil dari bambu yang dililit dan terbungkus ujungnya dengan lilitan benang sehingga tidak mudah lepas. Cara kerja alat ini, dimasukkan dan dikeluarkan mengisi benang bagian tengah yang berlawanan arahnya dengan arah benang pada &#039;&#039;lolo&#039;&#039;. &#039;&#039;Sauban&#039;&#039; yang sudah dimasukkan mengisi benang tengah disebut &#039;&#039;monaf.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Pauf&#039;&#039;. &#039;&#039;Pauf&#039;&#039; berperan memisahkan benang yang telah diatur dalam &#039;&#039;lolo&#039;&#039;. Ia juga membuat benang atas dan bawah naik turun sehingga memudahkan &#039;&#039;sauban&#039;&#039; dan &#039;&#039;senu&#039;&#039; bekerja. &#039;&#039;Pauf&#039;&#039; dibuat dari bagian tengah kayu Kasuari.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Ut&#039;&#039;. &#039;&#039;Ut&#039;&#039; berupa batang bambu yang menahan &#039;&#039;pauf&#039;&#039; dan memisahkan benang atas dan bawah. &#039;&#039;Ut&#039;&#039; membedakan benang atas dan bawah sehingga memudahkan &#039;&#039;sauban,&#039;&#039; &#039;&#039;sial,&#039;&#039; dan &#039;&#039;senu&#039;&#039; mengisi benang tengah ataupun membuat motif. Bahan &#039;&#039;ut&#039;&#039; bisa dari bambu tabun, bisa juga dari kayu taduk. &#039;&#039;Ut&#039;&#039; ada dua, &#039;&#039;ut&#039;&#039; besar dan &#039;&#039;ut&#039;&#039; kecil. &#039;&#039;Ut&#039;&#039; besar untuk penahan puat sementara &#039;&#039;ut&#039;&#039; kecil untuk digerakkan dari muka ke belakang membedakan benang atas dan bawah. &#039;&#039;Ut&#039;&#039; besar berada di depan pauf, sementara ut kecil di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan peralatan di atas bertambah dengan beberapa alat pelengkap, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Sial&#039;&#039;, berbentuk lidi kecil dari bambu, yang berfungsi untuk mengatur motif. Biasanya &#039;&#039;sial&#039;&#039; dipasang lebih dari satu. Sial berbentuk batang pipih dengan ujung agak runcing. &#039;&#039;Sial&#039;&#039; dipasang di depan &#039;&#039;ut&#039;&#039; besar. Selain berfungsi membuat motif, sial juga menahan &#039;&#039;ut&#039;&#039; besar agar tetap di tempat- nya, juga untuk memisahkan benang atas dan bawah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Lilin&#039;&#039; (&#039;&#039;ninik&#039;&#039;), alat ini digunakan untuk merapikan benang ketika benang mulai mengembang kembali menjadi kapas dan menjaga agar tenunan tidak lengket sehingga mudah dipisahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Biboki]]&lt;br /&gt;
[[Category:Mollo]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Biboki&amp;diff=844</id>
		<title>Tenun Biboki</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun_Biboki&amp;diff=844"/>
		<updated>2025-01-04T09:24:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;== Jenis Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Di kalangan masyarakat Biboki, dikenal tiga jenis kain tenun khas biboki, yaitu &#039;&#039;&#039;kain tenun ikat (&#039;&#039;futus&#039;&#039;)&#039;&#039;&#039;, &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;sotis&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;buna&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;. Yang membedakan ke tiganya ada pada teknik pembuatannya. Tenun ikat &#039;&#039;(futus)&#039;&#039;, teknik tenunnya dilakukan dengan cara mengikat benang pakan dan benang lungsi. &#039;&#039;Sotis&#039;&#039;, teknik tenunnya tanpa diikat, motif langsung ditenun dengan memasukkan benang secara langsung. Sedangkan &#039;&#039;buna&#039;&#039;, teknik tenunnya menggunakan teknik songket.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra (hal. 19)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ketiga jenis ini, &#039;&#039;futus&#039;&#039; yang paling banyak dikembangkan. &#039;&#039;Futus&#039;&#039; berarti ikat. Maksudnya, untuk mendapatkan motif yang diharapkan, para penenun mengikat bagian-bagian benang tertentu sesuai gambar yang hendak ditampilkan, misalnya binatang atau tumbuhan. Selanjutnya, benang yang sudah diikat dicelupkan ke dalam pewarna. Setelah kering, ikatan tadi dibuka dan akan terlihat gambar yang diinginkan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bentuk Kain Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Bentuk kain ada yang berupa &#039;&#039;&#039;kain beti/ &#039;&#039;bet nae&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (lebar, berupa lembaran), &#039;&#039;&#039;kain &#039;&#039;tais&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (untuk perempuan biasanya dikombinasikan dengan buna, &#039;&#039;jadilah tais buna&#039;&#039;), &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;bet ana&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;/ selendang,&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;futu&#039;&#039;/ ikat pinggang&#039;&#039;&#039;.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nilai Tenun Ikat Biboki&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
Kain tenun Ikat Biboki dikatakan unik karena mengandung 6 hal pokok/ nilai, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Nilai Kebersamaan dan Kegotongroyongan : di masa lampau, para perempuan berkumpul atau berkelompok untuk memintal benang (&#039;&#039;Nasun Abas Nabua&#039;&#039;). Kebiasaan ini menjadi semarak ketika kegiatan memintal benang dilaksanakan pada saat bulan purnama disertai gelak tawa.&lt;br /&gt;
# Nilai Keindahan/Estetis : ragam/jenis dan motif-motif tenun biboki sangat beragam, mulai dari beti (kain lebar biasanya untuk laki-laki), tais (kain untuk permepuan), bet ana (selendang), futu (ikat pinggang) hingga buna. Demikian juga penggunaan warna yang dominan merah.&lt;br /&gt;
# Nilai Etik : mewarnai tata busana pemakaian sehari-hari dan pesta, sehingga orang dapat membedakan pemakaian sehari-hari dan pesta serta menghormati kedudukan dan status sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;
# Nilai Budaya : Kain tenun Ikat motif Biboki yang terbuat dari bahan kapas asli dan pewarna alami adalah bukti kearifan lokal yang berlaku secara turun-temurun perlu didukung pelestariannya.&lt;br /&gt;
# Nilai Religius : Kain tenun Ikat Biboki sebagai media yang dapat dipakai untuk memuja/sembahyang kepada leluhur, karena kain tenun Ikat diyakini mempunyai kekuatan untuk mejauhkan musibah.&lt;br /&gt;
# Nilai Ekonomis : Kain tenun Ikat Biboki merupakan sumber penghasilan keluarga, khususnya selama musim kering ketika penduduk tidak mengerjakan kegiatan pertanian di kebun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Motif-motif Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Munculnya motif Biboki dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan setempat, binatang, mitos yang berkembang/hewan mitolgi. Misalnya suatu daerah banyak terdapat jenis burung, di daerah tersebut akan berkembang motif burung&amp;lt;ref&amp;gt;John Amsikan (Kepala protokol Kabupaten TTU)&amp;lt;/ref&amp;gt;. Dulu motif tenun diturunkan secara turun menurun, dari generasi ke generasi. Sekarang, motif ini berkembang mengikuti zaman.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, beberapa motif tenun biboki yang berkembang secara turun temurun hingga motif terkini diantaranya: &#039;&#039;Fut Biboki&#039;&#039; (biboik), &#039;&#039;makaif&#039;&#039; (1-20), &#039;&#039;fut batola&#039;&#039;, &#039;&#039;hausufa&#039;&#039;, &#039;&#039;nik no’o&#039;&#039;, &#039;&#039;noa no’o&#039;&#039;, &#039;&#039;beabkataf&#039;&#039;, &#039;&#039;kolo&#039;&#039;/ burung, bintang, telinga hitam, batako, arloji hingga katak Jawa.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa motif menjadi ciri khas daerah sehingga ketika orang motif, bisa menebak dari mana orang tersebut berasal.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Desa Tokbesi, berikut adalah motif-motif yang saat ini dikembangkan:&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Makaif&#039;&#039; (Mulai dari &#039;&#039;makaif mese&#039;&#039; hingga &#039;&#039;makaif boes&#039;&#039;. Motif ini bermacam-macam. Salah  satunya berwarma hitam putih)&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Fut Biboki (biboik) ana&#039;&#039;,&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Kikis mutih nik no’o&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Makaif&#039;&#039; kombinasi buna&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Hausufa&#039;&#039; (bunga).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Nia nok’o&#039;&#039; (motif daun pria/ parea/ pare yang kecil dan besar)&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Nik no’o.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Buna nia no’o naik&#039;&#039; (kombinasi songket daun parea besar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Munculnya motif-motif baru ditengarai sejak dimulainya persentuhan para penenun Biboki dengan ‘dunia luar’ dan mulai masuknya benang- benang toko dan pewarna sintetis seperti naptol dan wantek. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ornamen Tenun Biboki ==&lt;br /&gt;
Ornamen-ornamen lain yang menjadi ciri khas tenun Biboki ialah adanya motif-motif kecil seperti &#039;&#039;puah kebe, oe mata, mat bobo, kikis muti, kikis metan.&#039;&#039;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri khasnya dari nenek moyang merupakan lambang dari Biboki, &#039;&#039;Mak aif Mese&#039;&#039;, &#039;&#039;Mak Aif Sa&#039;&#039;, &#039;&#039;Mat Bobo&#039;&#039; (Mata Bulat), &#039;&#039;Mak aif Feten&#039;&#039; (&#039;&#039;Mak aif&#039;&#039; yang lepas-lepas). &#039;&#039;Mak aif&#039;&#039; artinya bersambung, dan &#039;&#039;Feten&#039;&#039; artinya dibagi bagi marga (beda-beda marga) yang mencerminkan banyak marga, kawin mengawin dan diikat menjadi keluagra dan beranak.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber: ==&lt;br /&gt;
Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Biboki]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun&amp;diff=841</id>
		<title>Tenun</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun&amp;diff=841"/>
		<updated>2025-01-04T09:16:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tenun adalah hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dan sebagainya) dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada benang lungsing.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Flores, Adonara, Lembata, Timor, Sumba, Sabu, Rote, dan lusinan pulau-pulau kecil lainnya, tenun menjadi bahan dasar pakaian. Tak hanya itu, tenun juga dipakai dan digunakan untuk berbagai upacara tradisional seperti kelahiran, pernikahan, pemakaman, mendirikan rumah, berdoa untuk kesuburan, dan selamatan saat panen (Pollock, 2012). Di Mollo, Kabupaten TTS, tenun juga dipakai sebagai ucapan terima kasih secara umum atas pertolongan seseorang, bahkan juga sebagai penanda penyelesaian sebuah kasus.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Maimunah, Siti. 2017. [https://drive.google.com/file/d/1uNizeFF1OGRJtdFIWVBq0KjFeYssRIcc/view?usp=sharing Tenun dan Para Penjaga Identitas]. Jakarta: Poros Photo, Perhimpunan Lawe, Organisasi Attaemamus (OAT), dan GEF SGP Indonesia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan orang Timor dulu dan hari ini, tak lepas dari tenun. Dalam kekinian tenun tak hanya digunakan dalam upacara tradisional, tenun sebagai bahan pakaian juga digunakan pada saat seseorang menganggap acara yang dihadiri penting. Di Pulau Timor, tenun menunjukkan identitas sebagai orang Timor.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadiran tenun bergantung kepada perempuan, yang tiap hari duduk memintal kapas, menggulung benang dan berselonjor menenun benang, dan memproduksi tenun setiap hari. Tak bisa dipungkiri, perempuanlah yang menjaga identitas adat orang Timor.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masyarakat biboki, kain tenun yang berkembang adalah tenun ikat. Tenun ikat atau kain ikat ini merupakan kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsing yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Alat tenun yang digunakan adalah alat tenun bukan mesin dan biasanya, tenun dibuat dalam skala rumah tangga.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Biboki yang hidup dalam peradaban agraris, memposisikan tenun sebagai salah satu produk kebudayaan yang harus dilestarikan. Dirawat, dijaga, ‘diwariskan’ kepada anak cucu. &amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenun bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan primer (sandang), tetapi lebih dari itu. Tenun, bagi masyarakat Biboki adalah bagian dari produk kebudayaan, di mana dalam ritus hidup manusia biboki, selalu ada tenun di tiap ritualnya. Mulai dari proses kelahiran hingga kematian. Semua membutuhkan kain tenun. Tenun juga digunakan sebagai alat tukar menukar barang, seperti yang terjadi di Desa Luniup, Timur Tengah Utara (TTU). Selain itu, tenun juga berfungsi sebagai sarana kelengkapan upacara adat dan keagamaan. Bahkan pemerintah kabupaten (pemkab) TTU menetapkan tenun menjadi seragam kantor yang harus digunakan di hari-hari tertentu.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Timor]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun&amp;diff=832</id>
		<title>Tenun</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Tenun&amp;diff=832"/>
		<updated>2025-01-04T06:29:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: Created page with &amp;quot;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tenun adalah hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dan sebagainya) dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada lungsin.&amp;lt;ref&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&amp;lt;/ref&amp;gt; Category:Tenun Category:Sosial dan budaya Category:Kearifan...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tenun adalah hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dan sebagainya) dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada lungsin.&amp;lt;ref&amp;gt;Palupi, Ning. 2023. [https://drive.google.com/file/d/1i6qKRvUHpjDvlRGu4JVv9h9gtaTsR1ZT/view?usp=sharing Puan Maestro_Para Perempuan Penenun Kain Biboki]. Yogyakarta: Terasmitra&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Kearifan Lokal]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://akallokal.or.id//index.php?title=Ike_suti&amp;diff=831</id>
		<title>Ike suti</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://akallokal.or.id//index.php?title=Ike_suti&amp;diff=831"/>
		<updated>2025-01-04T03:46:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Mutiaafianti15: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Alat-Alat-Tenun-8384.jpg|thumb|Ike Suti (Foto: Rosa Panggabean)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ike Suti&#039;&#039; merupakan alat pemintal kapas. Alat ini terdiri dari dua bagian, lembing pendek (&#039;&#039;Ike&#039;&#039;) dan tempurung tempat putaran (&#039;&#039;Suti&#039;&#039;). &#039;&#039;Ike&#039;&#039; terbuat dari kayu kasuari, bentuknya mirip lembing dengan panjang sekitar 25 cm, berujung runcing. Bagian kepala &#039;&#039;ike&#039;&#039; lebih kecil dibanding bagian badannya. &#039;&#039;Suti&#039;&#039; dalam bahasa lokal bermakna tempat kosong, arena yang hanya bisa dipakai &#039;&#039;ike&#039;&#039; berputar. &#039;&#039;Ike&#039;&#039; biasanya dibuat dari tempurung kelapa, tapi ada juga yang menggunakan kulit kerang besar.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Maimunah, Siti. 2017. [https://drive.google.com/file/d/1uNizeFF1OGRJtdFIWVBq0KjFeYssRIcc/view?usp=sharing Tenun dan Para Penjaga Identitas]. Jakarta: Poros Photo, Perhimpunan Lawe, Organisasi Attaemamus (OAT), dan GEF SGP Indonesia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ike suti&#039;&#039; sarat filosofi. Lembing kecil ini diibaratkan tubuh perempuan. Bagian bawah perut, bagian atas dada. Saat pintalan benang memenuhi tubuh &#039;&#039;ike&#039;&#039;, maka ia harus digeser ke bagian atas, di bagian dada. Jika ike sudah penuh, disebut satu &#039;&#039;ike&#039;&#039;, maka bagian badan akan membuncit, demikian juga bagian dada akan terlihat cembung. Ia bagaikan &#039;&#039;bifel ma&#039;apu&#039;&#039; atau perempuan hamil. Saat kondisi ini, memintal harus dihentikan sebab putaran &#039;&#039;ike&#039;&#039; akan terganggu jika dipaksakan ditambah benang. Artinya sudah waktunya melepaskan benang, memindahkannya dengan menggulungnya di sebuah batu atau potongan kayu hingga membentuk bola.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, di Mollo &#039;&#039;Ike Suti&#039;&#039; juga merupakan simbol dari tenun. Dua alat ini menggambarkan bagaimana &#039;&#039;ike&#039;&#039; yang berputar – seperti gasing – di atas tempurung dan “merangkul” kapas yang dililitkan ke batangnya. Begitulah peran perempuan Mollo: merangkul kekayaan alam dan hubungan-hubungan kemanusiaan, merangkul kehidupan. Tak heran, Perempuan dianggap belum menyelesaikan adatnya jika ia belum selesaikan &#039;&#039;ike suti&#039;&#039; nya.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Sosial dan budaya]]&lt;br /&gt;
[[Category:Tenun]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Mutiaafianti15</name></author>
	</entry>
</feed>