Tempe
Tempe merupakan pangan yang familiar di wilayah Indonesia. Tempe sendiri memiliki sejarah panjang dalam budaya pangan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dalam buku Serat Centhini yang telah menuliskan bahwa Tempe hidup di dapur masyarakat sejak sekitar 1940an.
Buku Serat Centhini mencatat tempe bukan sebagai makanan mewah, tapi sebagai laku hidup. Tempe mengajarkan prasaja: hidup tidak berlebihan, tidak kekurangan. Bukan soal miskin, tapi tahu kapan cukup. Ia menuntut laku dadi. Tidak ada tempe tanpa waktu. Direndam. Direbus. Ditunggu. Seperti manusia— yang matang bukan karena cepat, tapi karena sabar. Wong urip kuwi kudu dadi, ora mung ana (orang hidup harus menjadi sesuatu, bukan hanya ada). Dalam fermentasi, ada manunggal. tidak ada yang paling berkuasa. Jamur dan kacang saling bekerja. Andhap asor. Selaras.
