Asam Sunti: Difference between revisions
From Akal Lokal
Lia de Ornay (talk | contribs) No edit summary |
Lia de Ornay (talk | contribs) No edit summary |
||
| Line 1: | Line 1: | ||
'''Asam sunti''' merupakan bumbu tradisional khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan hingga berwarna gelap, menghasilkan rasa asam yang kuat dan khas.<ref>Mei Batubara dalam acara "Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara", 2025.</ref> | '''Asam sunti''' merupakan bumbu tradisional khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan hingga berwarna gelap, menghasilkan rasa asam yang kuat dan khas.<ref>Mei Batubara dalam acara "Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara", 2025.</ref> | ||
Bumbu ini memberikan cita rasa segar sekaligus unik pada sambal ''oen peugaga''. Apabila asam sunti sulit diperoleh, belimbing wuluh segar dapat digunakan sebagai alternatif. | Bumbu ini memberikan cita rasa segar sekaligus unik pada [[Sambal Oen Peugaga (Aceh)|sambal ''oen peugaga'']]. Apabila asam sunti sulit diperoleh, belimbing wuluh segar dapat digunakan sebagai alternatif. | ||
{{Penulis}} | {{Penulis}} | ||
Latest revision as of 03:49, 4 February 2026
Asam sunti merupakan bumbu tradisional khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan hingga berwarna gelap, menghasilkan rasa asam yang kuat dan khas.[1]
Bumbu ini memberikan cita rasa segar sekaligus unik pada sambal oen peugaga. Apabila asam sunti sulit diperoleh, belimbing wuluh segar dapat digunakan sebagai alternatif.
Penulis Artikel
Sumber:
- ↑ Mei Batubara dalam acara "Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara", 2025.
