Tempe: Difference between revisions

From Akal Lokal
(Created page with "'''''Tempe''''', merupakan pangan yang familiar di wilayah Indonesia. Tempe sendiri memiliki sejarah panjang dalam budaya pangan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dalam serat centhini yang telah menuliskan bahwa Tempe hidup di dapur masyarakat sejak sekitar 1940an. thumb|Tempe, Foto: Sumartini Serat Centhini mencatatnya bukan sebagai makanan mewah, tapi sebagai laku hidup. Tempe mengajarkan ''prasaja'': hidup tidak berlebihan, tidak kekurangan. Bukan...")
 
No edit summary
 
Line 1: Line 1:
'''''Tempe''''', merupakan pangan yang familiar di wilayah Indonesia. Tempe sendiri memiliki sejarah panjang dalam budaya pangan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dalam serat centhini yang telah menuliskan bahwa Tempe hidup di dapur masyarakat sejak sekitar 1940an.
'''Tempe''' merupakan pangan yang familiar di wilayah Indonesia. Tempe sendiri memiliki sejarah panjang dalam budaya pangan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dalam [https://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Centhini buku Serat Centhini] yang telah menuliskan bahwa Tempe hidup di dapur masyarakat sejak sekitar 1940an.
[[File:Tempe.jpg|thumb|Tempe, Foto: Sumartini]]
[[File:Tempe.jpg|thumb|Tempe. (Foto: Sumartini/TM)]]




Serat Centhini mencatatnya bukan sebagai makanan mewah, tapi sebagai laku hidup. Tempe mengajarkan ''prasaja'': hidup tidak berlebihan, tidak kekurangan. Bukan soal miskin, tapi tahu kapan cukup. Ia menuntut ''laku dadi.'' Tidak ada tempe tanpa waktu. Direndam. Direbus. Ditunggu. Seperti manusia— yang matang bukan karena cepat, tapi karena sabar. ''Wong urip kuwi kudu dadi, ora mung ana'' (orang hidup harus menjadi sesuatu, bukan hanya ada). Dalam fermentasi, ada manunggal. tidak ada yang paling berkuasa. Jamur dan kacang saling bekerja. ''Andhap asor''. Selaras.
 
[https://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Centhini Buku Serat Centhini] mencatat tempe bukan sebagai makanan mewah, tapi sebagai laku hidup. Tempe mengajarkan ''prasaja'': hidup tidak berlebihan, tidak kekurangan. Bukan soal miskin, tapi tahu kapan cukup. Ia menuntut ''laku dadi.'' Tidak ada tempe tanpa waktu. Direndam. Direbus. Ditunggu. Seperti manusia— yang matang bukan karena cepat, tapi karena sabar. ''Wong urip kuwi kudu dadi, ora mung ana'' (orang hidup harus menjadi sesuatu, bukan hanya ada). Dalam fermentasi, ada manunggal. tidak ada yang paling berkuasa. Jamur dan kacang saling bekerja. ''Andhap asor''. Selaras.
 
{{Penulis}}
 
== Sumber: ==
[[Category:Makanan lokal]]

Latest revision as of 07:46, 27 February 2026

Tempe merupakan pangan yang familiar di wilayah Indonesia. Tempe sendiri memiliki sejarah panjang dalam budaya pangan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dalam buku Serat Centhini yang telah menuliskan bahwa Tempe hidup di dapur masyarakat sejak sekitar 1940an.

Tempe. (Foto: Sumartini/TM)


Buku Serat Centhini mencatat tempe bukan sebagai makanan mewah, tapi sebagai laku hidup. Tempe mengajarkan prasaja: hidup tidak berlebihan, tidak kekurangan. Bukan soal miskin, tapi tahu kapan cukup. Ia menuntut laku dadi. Tidak ada tempe tanpa waktu. Direndam. Direbus. Ditunggu. Seperti manusia— yang matang bukan karena cepat, tapi karena sabar. Wong urip kuwi kudu dadi, ora mung ana (orang hidup harus menjadi sesuatu, bukan hanya ada). Dalam fermentasi, ada manunggal. tidak ada yang paling berkuasa. Jamur dan kacang saling bekerja. Andhap asor. Selaras.

Penulis Artikel

✍️ Ditulis oleh: Bobamilk, Lia de Ornay

Sumber: