Miwiti
Secara Geografis Kabupaten Temanggung terletak di kawasan perbukitan dan pegunungan sehingga mayoritas mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani lahan tegalan. Dalam siklus pertaniannya, masyarakat secara turun temurun melestarikan ritual Miwiti sebagai tanda dimulainya masa produksi atau bercocok tanam. [64-67 1]
Ritual Miwiti dilakukan sebelum memulai berbagai tahapan bertani, mulai dari membersihkan lahan (babat), mencangkul (macul), menebar benih (Ngurit), menanam (nandur), hingga masa panen (Ngunduh). Selain tiu sarana upacara atau uba rampe yang beragam, seperti jajanan pasar, aneka bubur, jenang, bucu (tumpeng kecil), ingkung ayam, hingga gunungan hasil bumi. [64-67 1]
Secara umum miwiti dibagi menjadi 4 jenis komoditas: [64-67 1]
- Miwiti Pari adalah ritual khusus untuk tanaman padi. Ciri khas Miwiti Pari terlihat melalui persiapan ubo rampe yang terdiri dari gulingan seperti bayi, rasulan (klepon dan serabi) serta jajanan pasar.
- Miwiti Jagung adalah ritual khusus untuk tanaman jagung, dilakukan dengan membuat bubur merah, bubur putih, jenang, nasi gegunung dengan urap nangka muda dan mengundang tetangga sekitar untuk doa, berbincang dan makan bersama serta turut serta membatu memanen jagung.
- Miwiti Mbako adalah ritual khusus untuk tanaman tembakau dengan sarana upcara berupa rasulan, ingkung, bucu dan jajan pasar.
- Miwiti Kopi adalah ritual khusus untuk tanaman kopi, dilaksanakan secara sederhana dengan kenduri bubur candil.
Cite error: <ref> tags exist for a group named "64-67", but no corresponding <references group="64-67"/> tag was found
