Sambal Oen Peugaga (Aceh): Difference between revisions
No edit summary |
Lia de Ornay (talk | contribs) No edit summary |
||
| Line 1: | Line 1: | ||
Dalam | Dalam Bahasa Aceh, ''oen'' berarti daun, sedangkan ''peugaga'' berarti pegagan. Sesuai dengan namanya, '''Sambal Oen Peugaga''' merupakan hidangan khas Aceh yang berbahan utama daun pegagan (''Centella asiatica'') yang dicincang halus. | ||
Keunikan sambal ini terletak pada penggunaan beragam jenis daun-daunan, yang jumlahnya dapat mencapai hingga 44 jenis. Daun-daun tersebut biasanya diambil dari sekitar pekarangan rumah, seperti daun kemangi, daun mangga, daun jambu, serta berbagai jenis daun lokal lainnya yang masih muda dan segar.<ref name=":0" /> | |||
Asam sunti sendiri merupakan bumbu tradisional khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan hingga berwarna gelap, menghasilkan rasa asam yang kuat dan khas. Bumbu ini memberikan cita rasa segar sekaligus unik pada sambal ''oen peugaga''. Apabila asam sunti sulit diperoleh, belimbing wuluh segar dapat digunakan sebagai alternatif.<ref name=":0" /> | == Cara Membuat == | ||
Sebelum diolah, seluruh daun dikukus terlebih dahulu untuk melunakkan teksturnya sekaligus mengurangi rasa pahit pada beberapa jenis daun. Setelah itu, daun-daun tersebut dicincang halus dan dicampur dengan kelapa parut yang telah disangrai hingga harum. Campuran ini kemudian diberi bumbu berupa cabai hijau, sereh, bawang merah, serta asam sunti yang menjadi ciri khas masakan Aceh.<ref name=":0">Mei Batubara dalam acara "Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara", 2025</ref> | |||
'''[[Asam Sunti|Asam sunti]]''' sendiri merupakan bumbu tradisional khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan hingga berwarna gelap, menghasilkan rasa asam yang kuat dan khas. Bumbu ini memberikan cita rasa segar sekaligus unik pada sambal ''oen peugaga''. Apabila [[Asam Sunti|asam sunti]] sulit diperoleh, belimbing wuluh segar dapat digunakan sebagai alternatif.<ref name=":0" /> | |||
{{Penulis}} | {{Penulis}} | ||
| Line 11: | Line 14: | ||
[[Category:Sambal Nusantara]] | [[Category:Sambal Nusantara]] | ||
[[Category:Makanan lokal]] | [[Category:Makanan lokal]] | ||
<references /> | |||
[[Category:Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara]] | |||
Latest revision as of 03:50, 4 February 2026
Dalam Bahasa Aceh, oen berarti daun, sedangkan peugaga berarti pegagan. Sesuai dengan namanya, Sambal Oen Peugaga merupakan hidangan khas Aceh yang berbahan utama daun pegagan (Centella asiatica) yang dicincang halus.
Keunikan sambal ini terletak pada penggunaan beragam jenis daun-daunan, yang jumlahnya dapat mencapai hingga 44 jenis. Daun-daun tersebut biasanya diambil dari sekitar pekarangan rumah, seperti daun kemangi, daun mangga, daun jambu, serta berbagai jenis daun lokal lainnya yang masih muda dan segar.[1]
Cara Membuat
Sebelum diolah, seluruh daun dikukus terlebih dahulu untuk melunakkan teksturnya sekaligus mengurangi rasa pahit pada beberapa jenis daun. Setelah itu, daun-daun tersebut dicincang halus dan dicampur dengan kelapa parut yang telah disangrai hingga harum. Campuran ini kemudian diberi bumbu berupa cabai hijau, sereh, bawang merah, serta asam sunti yang menjadi ciri khas masakan Aceh.[1]
Asam sunti sendiri merupakan bumbu tradisional khas Aceh yang terbuat dari belimbing wuluh yang difermentasi dan dikeringkan hingga berwarna gelap, menghasilkan rasa asam yang kuat dan khas. Bumbu ini memberikan cita rasa segar sekaligus unik pada sambal oen peugaga. Apabila asam sunti sulit diperoleh, belimbing wuluh segar dapat digunakan sebagai alternatif.[1]
