Molapo
Molapo merupakan ritual pengasapan kebun yang dilakukan oleh Panggoba, yang bertujuan untuk melindungi tanaman kebun dan mengusir hama yang merusak. Salah satunya hama ulat. Dalam sekali siklus tanam, panggoba melakukan setidaknya tiga hingga lima kali ritual molapo. Tak ada waktu khusus untuk melakukan molapo. Ritual ini bisa digelar pada pagi, siang, atau sore hari. Tergantung kondisi tanaman, atau terserah pada permintaan orang yang mengundang Panggoba.[1]
Proses Molapo
Molapo bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan duduk setengah jongkok di tengah kebun dan memulai ritual. Atau, dilakukan dengan mengelilingi perkebunan dari sudut ke sudut.[1] Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk melakukan molapo ada serabut kelapa, kemenyan, sereh, dan rumah madu. Bahan ini akan dibakar diatas batok hingga mengeluarkan asap, kemudian pelaku molapo akan membacakan doa meminta kepada leluhur dan makhluk penjaga untuk menghindarkan tanaman mereka dari serangan hama. Setelah selesai berdoa, sesaji ini akan dibawa keliling kebun dan terakhir akan ditaruh ditengah kebun.[2]
Molapo di masa sekarang
Karena panggoba sudah langka, hampir tak ada lagi yang percaya akan kekuatan panggoba selain mereka yang dari kelompok generasi tua. Degradasi budaya sekaligus kemajuan pengetahuan telah membuat masyarakat skeptis, dan melabeli ritual yang dilakukan oleh panggoba sebagai perilaku sirik. Padahal bila dilihat dari kacamata pertanian hijau, molapo justru mempertahankan kestabilan ekosistem dan siklus hidup organisme. Apalagi jika dibandingkan dengan kegiatan pertanian sekarang, yang lazimnya memakai zat kimia sintetis untuk mengusir hama tanaman. Resiko dari penggunaan pestisida adalah kerusakan keanekaragaman hayati. Sementara teknik pengasapan dinilai lebih ramah lingkungan. [1]
Penulis Artikel
Sumber:
Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. 2021. Siasah. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak
